15 Destinasi Wisata di Bali Anti-Mainstream yang Wajib Masuk Bucket List Liburanmu

Home / Blog / 

Destinasi Wisata di Bali

15 Destinasi Wisata di Bali Anti-Mainstream yang Wajib Masuk Bucket List Liburanmu

Siapa yang tidak tahu Bali? Masuk dalam jajaran destinasi wisata terbaik di Indonesia, Bali selalu menjadi tujuan utama wisatawan dalam dan luar negeri. 

Mulai dari Ubud, Tanah Lot, hingga deretan beach club di Canggu, merupakan beberapa destinasi wisata di Bali yang sering kali dikunjungi wisatawan. Tak heran jika destinasi-destinasi tersebut selalu dipenuhi hiruk-pikuk wisatawan, terutama saat musim liburan.

Meskipun begitu, Bali masih menyimpan banyak tempat wisata yang jarang orang tahu. Bahkan, beberapa di antaranya masih lebih akrab di kalangan warga lokal, lho. 

Mulai dari padang savana yang luas, pantai yang masih jarang masuk dalam itinerary liburanmu, hingga desa di pegunungan dengan suasana yang masih asri, semuanya menawarkan sisi Bali yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya.

Nah, kalau liburan kali ini kamu ingin merasakan pengalaman yang berbeda, artikel ini bisa kamu gunakan sebagai referensi untuk destinasi wisata kamu selanjutnya. OkeTiket telah merangkum 15 destinasi wisata di Bali anti-mainstream yang layak kamu kunjungi. 

Tidak hanya membahas keindahan setiap tempat, kamu juga akan menemukan informasi lengkap seputar lokasi, cara menuju destinasi, aktivitas yang bisa dilakukan, hingga berbagai tips agar perjalananmu semakin nyaman. 

Siap menjelajahi sisi Bali yang belum banyak orang tahu? Siapa tahu, destinasi favoritmu berikutnya justru ada di daftar ini.

1. Savana Tianyar

Kalau ada yang bilang Bali punya lanskap yang mengingatkan pada Afrika, mungkin terdengar berlebihan. Tapi begitu menginjakkan kaki di Savana Tianyar, kamu akan paham kenapa tempat ini sering menjadi salah satu hidden spot favorit para pemburu panorama.

Berlokasi di Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, kawasan ini merupakan hamparan padang rumput luas yang membentang di kaki Gunung Agung. 

Saat musim kemarau, rerumputan berubah menjadi kuning keemasan dan sering dibandingkan dengan savana di Afrika. Ketika musim hujan tiba, seluruh area berubah hijau, menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda tergantung waktu kunjungan kamu.

Jika berangkat dari kawasan Denpasar atau kawasan wisata Bali Selatan seperti Kuta dan Seminyak, perjalanan menuju Savana Tianyar membutuhkan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi lalu lintas. Jalur menuju lokasi sudah beraspal dengan kondisi yang relatif baik. Meski begitu, kamu tetap akan melewati beberapa tanjakan dan tikungan khas kawasan pegunungan Bali Timur yang membuat perjalanan terasa lebih menantang.

Karena transportasi umum menuju kawasan ini masih sangat terbatas, kendaraan sewaan menjadi pilihan yang paling praktis. Namun, jika sudah terbiasa berkendara di jalur pegunungan, menggunakan kendaraan pribadi juga bisa menjadi pilihan yang nyaman.

Begitu sampai di lokasi, hamparan padang rumput yang luas berpadu dengan megahnya Gunung Agung di kejauhan, menciptakan panorama yang membuat perjalanan menuju Savana Tianyar terasa sepadan.

Waktu terbaik untuk datang adalah pagi hari saat cuaca masih cerah, atau menjelang matahari terbenam ketika pencahayaan alami membuat pemandangan Savana Tianyar terlihat semakin indah. Tidak heran jika banyak fotografer dan pembuat konten memilih dua waktu tersebut untuk mendapatkan hasil foto yang lebih maksimal.

Selain menikmati pemandangan, Savana Tianyar juga kerap menjadi lokasi piknik sederhana, camping, hingga sesi foto prewedding. Jika beruntung, kamu bisa melihat sapi-sapi milik warga yang sedang merumput, sebuah detail kecil yang menghadirkan kesan pedesaan yang masih sangat alami.

Karena fasilitas di sekitar savana belum selengkap objek wisata populer di Bali, sebaiknya bawa air minum, makanan ringan, topi, serta sunblock, terutama jika berkunjung pada siang hari. Jangan lupa menjaga kebersihan area, sebab kawasan ini merupakan bagian dari lingkungan alam yang masih terjaga.

Apabila memiliki waktu lebih, perjalanan ke Savana Tianyar bisa dikombinasikan dengan mengunjungi Taman Ujung Sukasada, Bukit Asah, atau Pura Lempuyang yang masih berada di kawasan Karangasem.

2. Taman Ujung Sukasada

Tidak jauh dari pusat Kota Amlapura, berdiri Taman Ujung Sukasada, bekas kompleks taman kerajaan Karangasem yang hingga kini masih menjadi salah satu ikon wisata di Bali Timur.

Dibangun pada awal abad ke-20, kawasan ini memadukan arsitektur Bali, Eropa, dan Tiongkok dalam satu kompleks yang dikelilingi deretan kolam dan lanskap taman yang tertata rapi.

Hingga kini, bangunan-bangunan bersejarah, deretan kolam, serta suasana yang tenang masih menghadirkan pengalaman yang terasa seperti membawa pengunjung kembali ke masa lampau.

Lokasinya berada di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem. Dari pusat Kota Denpasar, perjalanan menuju Taman Ujung Sukasada memakan waktu sekitar 2 jam menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi lalu lintas. 

Akses jalannya pun sudah cukup baik dan mudah dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, sehingga cocok menjadi salah satu destinasi wisata saat berlibur ke Bali Timur.

Daya tarik utama Taman Ujung terletak pada bangunan-bangunan bersejarah yang berdiri di atas pulau-pulau kecil yang saling terhubung oleh jembatan batu. 

Dari bukit di belakang kompleks, kamu juga bisa menikmati panorama laut serta Gunung Agung dalam satu sudut pandang, pemandangan yang menjadi salah satu daya tarik utama kawasan ini. Banyak wisatawan datang pada pagi hari karena suasananya masih sejuk dan cahaya matahari membuat area taman terlihat lebih hidup.

Selain berkeliling taman, kamu juga bisa melihat berbagai bangunan peninggalan Kerajaan Karangasem yang masih terawat dengan baik. Dari arsitektur hingga tata kawasannya, setiap sudut Taman Ujung menyimpan cerita tentang kejayaan kerajaan pada masanya.

Di sekitar kawasan wisata juga terdapat beberapa warung makan yang menyajikan kuliner khas Bali Timur. Jika memiliki waktu lebih, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Tirta Gangga yang berjarak sekitar 20 menit berkendara dari Taman Ujung. Karena lokasinya berdekatan, banyak wisatawan mengunjungi Taman Ujung dan Tirta Gangga dalam satu perjalanan ke Karangasem.

3. Desa Pinggan

Menyaksikan matahari terbit di atas lautan kabut mungkin terdengar seperti pemandangan yang hanya bisa ditemukan di luar negeri. 

Namun, pengalaman itu juga bisa kamu temukan di Desa Pinggan, sebuah desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yang dikenal sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Bali. Saat cuaca cerah, siluet Gunung Batur dan Gunung Agung menjadi latar yang membuat pemandangannya semakin istimewa.

Dari pusat Kota Denpasar, perjalanan menuju Desa Pinggan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi lalu lintas. Jalan menuju lokasi sudah beraspal, meski terdapat beberapa tikungan tajam khas kawasan pegunungan sehingga pengemudi tetap perlu berhati-hati.

Karena daya tarik utamanya adalah panorama matahari terbit, sebagian besar wisatawan memilih berangkat dini hari agar tiba sebelum matahari mulai muncul. 

Waktu terbaik untuk menikmati panorama adalah sekitar pukul 05.30 hingga 06.30 pagi. Pada waktu tersebut, matahari mulai terbit dan kabut biasanya masih terlihat dengan jelas. Tidak heran jika banyak fotografer dan pembuat konten memilih datang sejak dini hari untuk mengabadikan momen tersebut.

Setelah menikmati sunrise, jangan terburu-buru kembali. Kawasan Kintamani masih menyimpan banyak tempat menarik untuk dijelajahi. Kamu bisa menikmati secangkir kopi lokal Bali, mencicipi jeruk Kintamani yang terkenal manis dan segar, atau melanjutkan perjalanan ke Danau Batur maupun kawasan Black Lava yang lokasinya tidak jauh dari Desa Pinggan.

Karena suhu udara di pagi hari bisa cukup dingin, gunakan jaket tebal dan pakaian yang nyaman. Jika berkunjung saat musim hujan, sebaiknya periksa terlebih dahulu kondisi cuaca karena kabut yang terlalu tebal dapat mengurangi jarak pandang sehingga panorama matahari terbit tidak terlihat secara maksimal.

4. Savana Caldera Batur

Kalau kamu mengira kawasan Gunung Batur hanya menawarkan pendakian dan pemandangan danau, Savana Caldera Batur bisa memberikan pengalaman yang berbeda. 

Hamparan padang rumput yang berada di kawasan kaldera gunung berapi ini menawarkan pemandangan yang jarang ditemukan di destinasi lain di Bali. Berbeda dengan savana di Karangasem, lanskap di sini didominasi batuan vulkanik, perbukitan, dan vegetasi yang tumbuh di area bekas aktivitas vulkanik, sehingga menghadirkan pemandangan yang menjadi ciri khas kawasan Kaldera Batur.

Lokasinya berada di sekitar kawasan Kaldera Batur, Kabupaten Bangli. Dari pusat Kintamani, perjalanan menuju area savana hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit menggunakan kendaraan pribadi. 

Karena lokasinya berdekatan, banyak wisatawan menggabungkan kunjungan ke Savana Caldera Batur dengan pendakian Gunung Batur, Black Lava Tour, atau menikmati pemandangan Danau Batur dalam satu hari perjalanan.

Daya tarik utama tempat ini adalah panorama kawasan kaldera dengan latar Gunung Batur yang menjulang di kejauhan.

Saat musim hujan, padang rumput tampak hijau dan berpadu dengan batuan vulkanik berwarna gelap. Sebaliknya, ketika musim kemarau, rerumputan berwarna cokelat keemasan sehingga pemandangan kawasan ini terlihat sangat berbeda dibandingkan saat musim hujan.

Area ini cocok untuk berjalan santai, fotografi lanskap, maupun menikmati udara pegunungan yang sejuk. Karena kawasan savana minim pepohonan, jangan lupa membawa topi, air minum, dan alas kaki yang nyaman. Sebaiknya hindari berkunjung saat tengah hari agar kamu tidak terlalu lama terpapar panas matahari.

5. Taman Edelweiss Besakih

Jika mendengar nama edelweiss, yang terbayang mungkin adalah bunga pegunungan yang hanya bisa ditemukan setelah mendaki gunung. 

Di Bali, kamu juga bisa menemukan hamparan bunga serupa di Taman Edelweiss Besakih yang berada di Banjar Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

Meski dikenal sebagai Taman Edelweiss Besakih, bunga yang tumbuh di kawasan ini sebenarnya adalah bunga kasna (Anaphalis javanica), yang oleh masyarakat setempat sering dijuluki “edelweiss Bali”.

Taman Edelweiss Besakih berada tidak jauh dari kawasan Pura Agung Besakih. Dari pusat Kota Denpasar, perjalanan menuju lokasi Taman Edelweiss Besakih dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi. 

Akses jalannya sudah baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, sehingga banyak wisatawan memilih mengunjungi taman ini bersamaan dengan Pura Agung Besakih.

Daya tarik utama taman ini adalah hamparan bunga kasna berwarna putih yang bermekaran mengikuti musim. Selain menjadi objek wisata, bunga kasna juga memiliki nilai penting dalam tradisi masyarakat Hindu Bali karena sering digunakan dalam berbagai upacara keagamaan. 

Karena itu, pengunjung diharapkan tidak memetik bunga atau merusak tanaman selama berada di area taman, mengingat tempat ini bukan sekadar taman hias, tetapi juga memiliki nilai budaya dan keagamaan bagi masyarakat setempat.

Pagi hari menjadi waktu terbaik untuk berkunjung karena udara masih sejuk dan kabut biasanya masih terlihat di sekitar kawasan. Setelah berkeliling taman, kamu bisa menikmati panorama Gunung Agung dari beberapa titik pandang di sekitar kawasan sebelum melanjutkan perjalanan ke Pura Agung Besakih.

Karena cuaca di kawasan Besakih dapat berubah dengan cepat, sebaiknya siapkan jaket tipis atau jas hujan, terutama saat musim penghujan.

6. Taman Bunga Gemitir

Tidak jauh dari Besakih, hamparan bunga gemitir atau marigold menjadi salah satu lanskap paling khas di Karangasem. Sebagian besar area perkebunannya berada di sekitar Desa Temukus dan lereng Gunung Agung.

Bunga berwarna kuning hingga oranye terang ini bukan hanya ditanam untuk keindahan, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam berbagai upacara adat dan keagamaan masyarakat Bali.

Saat musim berbunga, ribuan bunga bermekaran secara bersamaan sehingga menciptakan hamparan warna kuning dan oranye yang menjadi daya tarik utama kawasan ini. Musim berbunga biasanya berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun, meski dapat berubah mengikuti pola tanam para petani.

Kawasan kebun gemitir berada di jalur utama menuju Besakih sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. Dari pusat Kota Denpasar, perjalanan umumnya memakan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam. 

Tak jarang, beberapa wisatawan menggabungkan kunjungan ke Taman Edelweiss Besakih dan kebun gemitir dalam satu perjalanan karena lokasinya saling berdekatan.

Meskipun terlihat seperti objek wisata, perlu diingat bahwa sebagian besar area merupakan lahan pertanian milik warga. Karena itu, selalu ikuti jalur yang disediakan, jangan menginjak tanaman, dan mintalah izin apabila ingin mengambil foto di area tertentu. 

Dengan menjaga tanaman dan menghormati ruang kerja para petani, kamu juga ikut membantu menjaga kawasan ini agar tetap bisa dinikmati oleh pengunjung lainnya.

Jika berkunjung pada pagi hari, kamu juga berkesempatan melihat aktivitas petani memanen bunga yang nantinya akan dijual ke pasar maupun digunakan untuk kebutuhan upacara di berbagai pura di Bali. 

Melihat aktivitas tersebut menjadi pengalaman menarik untuk memahami bagaimana bunga gemitir berperan dalam kehidupan masyarakat Bali, bukan hanya sebagai tanaman hias tetapi juga bagian dari tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.

7. Taman Jinja Besakih, Nuansa Jepang dengan Latar Gunung Agung

Masih berada di kawasan Besakih, Taman Jinja menawarkan pengalaman yang cukup berbeda dibandingkan destinasi lain di Bali. Tempat ini mengusung konsep taman bergaya Jepang dengan elemen gerbang torii, jembatan, serta lanskap taman yang tertata rapi, sementara di kejauhan berdiri megah Gunung Agung sebagai latar alami, sebuah perpaduan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Lokasinya berada di sekitar kawasan wisata Besakih sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. Banyak wisatawan mengunjungi tempat ini setelah dari Pura Besakih atau Taman Edelweiss karena jaraknya relatif dekat.

Meskipun mengusung konsep yang terinspirasi dari Jepang, suasana alam Bali tetap menjadi daya tarik utama. Perpaduan taman, pegunungan, dan udara sejuk membuat tempat ini cocok bagi kamu yang ingin bersantai sambil menikmati pemandangan tanpa terburu-buru.

Area taman juga memiliki beberapa titik foto yang menghadap langsung ke Gunung Agung. Jika cuaca sedang cerah, pemandangan gunung akan terlihat jelas sehingga menghasilkan foto yang menarik. Sebaliknya, saat kabut turun, suasananya berubah menjadi lebih syahdu.

Karena berada di dataran tinggi, suhu udara di kawasan ini cenderung lebih sejuk dibandingkan wilayah pesisir Bali. Membawa jaket ringan bisa menjadi pilihan yang tepat, terutama jika datang pada pagi atau sore hari.

8. Pantai Gunung Payung

Kalau kamu mencari pantai dengan suasana yang lebih tenang di kawasan Bali Selatan, Pantai Gunung Payung bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik. 

Berada di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, pantai ini berbeda ketimbang Pantai pandawa atau Melasti yang kian ramai. Salah satu alasan pantai ini masih terasa lebih tenang adalah karena akses menuju bibir pantainya membutuhkan sedikit usaha.

Untuk mencapai bibir pantai, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang dibangun di sisi tebing. Waktu tempuhnya sekitar 10 hingga 15 menit. Meski membutuhkan sedikit usaha, pemandangan laut dari atas tebing membuat setiap langkah terasa sepadan.

Sesampainya di bawah, kamu akan menemukan hamparan pasir putih yang bersih dengan air laut yang jernih. Ombaknya cukup besar sehingga wisatawan perlu berhati-hati saat bermain di tepi pantai maupun berenang. Banyak pengunjung memilih menikmati suasana pantai, berjalan di sepanjang garis pantai, atau sekadar bersantai sambil mendengarkan deburan ombak.

Di sekitar kawasan pantai tersedia beberapa fasilitas dasar seperti area parkir, toilet, dan warung sederhana. Meski begitu, jumlah fasilitasnya masih terbatas dibandingkan pantai-pantai populer lainnya. Karena itu, sebaiknya bawa air minum dan kebutuhan pribadi sebelum turun ke area pantai.

Pagi hari menjadi waktu terbaik untuk berkunjung karena cuaca masih nyaman dan jumlah pengunjung biasanya belum terlalu ramai. Selain suasana pantai yang masih lebih tenang, perjalanan menuruni dan menaiki anak tangga juga terasa lebih nyaman dibandingkan saat siang hari.

9. Blue Lagoon Sambangan

Bali Utara menyimpan banyak kejutan bagi pecinta wisata alam, salah satunya Blue Lagoon Sambangan yang berada di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. 

Kawasan ini dikenal dengan kolam alami berair jernih yang terbentuk di aliran sungai, dikelilingi tebing dan pepohonan tropis yang masih lebat.

Dari kawasan Lovina, perjalanan menuju Desa Sambangan memakan waktu sekitar 30 menit. Sementara itu, dari pusat Kota Denpasar, waktu tempuhnya sekitar 2,5 hingga 3 jam menggunakan kendaraan pribadi. Sesampainya di area parkir, perjalanan masih dilanjutkan dengan trekking singkat menuju Blue Lagoon melalui jalur yang telah tersedia.

Perjalanan menuju Blue Lagoon menjadi salah satu bagian yang menarik dari pengalaman berkunjung ke tempat ini. Kamu akan melewati area persawahan, perkebunan, hingga jalur setapak dengan suasana pedesaan yang masih asri.

Meski harus berjalan kaki, jalurnya tergolong mudah diikuti dan sudah dilengkapi akses yang memadai di beberapa titik. Karena jalurnya bisa menjadi licin saat musim hujan, sebaiknya gunakan sepatu atau sandal trekking yang nyaman.

Selain berenang di kolam alami, kawasan Sambangan juga dikenal memiliki beberapa air terjun yang sering dikunjungi dalam satu jalur trekking, seperti Aling-Aling, Kroya, Kembar, dan Pucuk. Karena itu, banyak wisatawan memilih mengikuti paket trekking yang tersedia agar lebih mudah menjelajahi seluruh kawasan dalam setengah hari hingga satu hari penuh.

Sebelum berkunjung, pastikan kondisi cuaca sedang baik dan hindari datang saat hujan deras karena debit air sungai dapat meningkat. Jika ingin mencoba aktivitas seperti cliff jumping atau trekking, selalu ikuti arahan pemandu lokal demi menjaga keselamatan selama berada di kawasan ini.

10. Bukit Batu Jaran

Kalau kamu mencari tempat untuk menikmati panorama laut dari ketinggian tanpa harus berdesakan dengan wisatawan lain, Bukit Batu Jaran bisa menjadi pilihan yang cocok.

Berada di kawasan Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, destinasi ini masih menawarkan suasana yang relatif lebih tenang dibandingkan beberapa spot sunset populer di kawasan Uluwatu.

Akses menuju Bukit Batu Jaran paling praktis menggunakan kendaraan pribadi. Dari kawasan Uluwatu, perjalanan hanya memerlukan waktu sekitar 5 hingga 10 menit, sedangkan dari pusat Kota Denpasar sekitar 1 hingga 1,5 jam. Menjelang lokasi, kamu akan melewati jalan yang relatif sempit sehingga sebaiknya berkendara dengan lebih berhati-hati.

Sesampainya di atas bukit, hamparan laut biru dan tebing yang langsung menghadap Samudra Hindia akan langsung menyambutmu. Dari sini, kamu bisa menikmati panorama garis pantai yang memanjang tanpa banyak bangunan yang menghalangi pemandangan. Tidak heran jika Bukit Batu Jaran menjadi salah satu spot favorit untuk menikmati sunset maupun berburu foto lanskap.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi atau sore hari. Selain cahaya matahari yang lebih nyaman, suhu udara juga tidak terlalu panas. Jika ingin menikmati matahari terbenam, datanglah sekitar satu hingga dua jam sebelum sunset agar memiliki waktu yang cukup untuk mencari spot terbaik.

Karena fasilitas wisata di sekitar bukit masih terbatas, sebaiknya bawa air minum dan makanan ringan sebelum berkunjung. Tetap berhati-hati saat berada di dekat bibir tebing karena di beberapa titik belum terdapat pagar pembatas. Hindari mengambil foto terlalu dekat dengan tepi tebing demi menjaga keselamatan.

11. Gili Putih Sumberkima

Banyak orang mengenal “gili” sebagai pulau kecil, tetapi Gili Putih di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, memiliki keunikan yang berbeda. 

Tempat ini bukan pulau permanen, melainkan hamparan pasir putih yang muncul ketika air laut sedang surut. Fenomena ini membuat pengunjung seolah dapat berjalan di tengah laut dengan panorama perairan biru di kedua sisinya.

Untuk mencapai lokasi, kamu perlu menuju kawasan Sumberkima yang berada di Bali Barat. Dari Kota Singaraja, perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, sedangkan dari Denpasar dapat memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam tergantung kondisi lalu lintas. 

Setelah tiba di kawasan Sumberkima, perjalanan menuju Gili Putih dapat dilanjutkan dengan perahu nelayan dari Pelabuhan Bangsal Sumberkima. Saat air laut sedang surut, hamparan pasir juga bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Pantai Pegametan.

Karena kemunculan hamparan pasir bergantung pada pasang surut air laut, sangat disarankan untuk memeriksa jadwal pasang surut sebelum berangkat. Datang pada waktu yang kurang tepat dapat membuat hamparan pasir tidak terlihat secara maksimal.

Sebaiknya lakukan pengecekan satu hingga dua hari sebelum keberangkatan agar lebih mudah menentukan waktu kunjungan.

Selain menikmati panorama laut, kawasan sekitar Sumberkima juga dikenal sebagai lokasi snorkeling dan diving karena memiliki perairan yang relatif jernih. Di sekitar kawasan ini juga terdapat area konservasi terumbu karang yang dapat dikunjungi. 

Jika memiliki waktu lebih, kamu dapat melanjutkan perjalanan ke Teluk Sumberkima atau menjelajahi kawasan Taman Nasional Bali Barat yang lokasinya tidak terlalu jauh.

Saat berkunjung, bawalah topi, sunblock, dan air minum karena area pasir hampir tidak memiliki tempat berteduh. Jangan meninggalkan sampah agar ekosistem pesisir tetap terjaga.

12. Bukit Asah

Kalau kamu mencari tempat untuk camping dengan panorama laut dari atas tebing, Bukit Asah bisa menjadi pilihan yang menarik. 

Berada di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, destinasi ini menjadi salah satu camping ground yang cukup populer di Bali Timur karena menyuguhkan pemandangan laut lepas, tebing, dan perbukitan dalam satu lokasi.

Dari atas bukit, kamu bisa melihat perpaduan tebing hijau, laut lepas, serta garis pantai yang membentang luas. Pemandangan inilah yang membuat Bukit Asah menjadi salah satu viewpoint favorit di Bali Timur.

Perjalanan dari pusat Kota Denpasar menuju Bukit Asah memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam menggunakan kendaraan pribadi. Jalur menuju lokasi sudah beraspal dan dapat dilalui mobil maupun sepeda motor. Menjelang area bukit, jalan mulai menanjak, tetapi masih tergolong mudah dilalui.

Banyak wisatawan memilih menginap di area camping agar dapat menikmati matahari terbit tanpa harus berangkat terlalu pagi dari kota. Bagi yang tidak membawa perlengkapan sendiri, pengelola juga menyediakan penyewaan tenda dengan berbagai pilihan. 

Saat cuaca cerah, kamu bisa melihat sunrise langsung dari area camping tanpa perlu berpindah lokasi. Pada malam hari, suasana di sekitar bukit juga terasa tenang sehingga cocok untuk menikmati langit berbintang.

Selain camping, pengunjung biasanya berjalan santai menyusuri area perbukitan, menikmati piknik sederhana, atau berburu foto dengan latar laut dan tebing. Dari beberapa titik di kawasan ini, panorama Pantai Bias Putih juga terlihat membentang dari kejauhan.

Di sekitar kawasan terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman, meskipun pilihannya masih terbatas dibandingkan kawasan wisata populer.

Jika berencana menginap, pastikan membawa perlengkapan camping yang sesuai atau melakukan reservasi terlebih dahulu apabila ingin menyewa tenda dari pengelola. Reservasi lebih awal sangat disarankan jika kamu berkunjung saat akhir pekan atau musim liburan karena area camping biasanya lebih ramai.

13. Air Terjun Tukad Cepung

Air Terjun Tukad Cepung berada di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Destinasi ini dikenal karena air terjunnya yang berada di dalam celah tebing batu.

Saat sinar matahari masuk melalui celah di bagian atas, tercipta efek cahaya alami yang menjadi ciri khas Air Terjun Tukad Cepung. Momen inilah yang membuat banyak wisatawan datang untuk menikmati sekaligus mengabadikan keindahannya.

Dari Ubud, perjalanan menuju Air Terjun Tukad Cepung memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan dari pusat Kota Denpasar sekitar satu setengah jam menggunakan kendaraan pribadi. 

Setelah tiba di area parkir, perjalanan masih dilanjutkan dengan menuruni anak tangga dan berjalan kaki menyusuri aliran sungai selama sekitar 15 hingga 20 menit.

Perjalanan menuju air terjun menjadi bagian dari pengalaman yang tidak kalah menarik. Kamu akan melewati anak tangga, jalur setapak, dan aliran sungai yang diapit tebing batu sebelum tiba di lokasi.

Meski jalurnya tergolong mudah diikuti, beberapa bagian bisa menjadi licin, terutama setelah hujan. Karena harus melewati aliran sungai, sebaiknya gunakan alas kaki yang nyaman dan siapkan pakaian ganti jika ingin bermain air.

Waktu terbaik untuk datang adalah pada pagi menjelang siang ketika sinar matahari mulai masuk ke dalam celah tebing. Jika datang terlalu pagi atau cuaca mendung, efek cahaya yang menjadi ciri khas Tukad Cepung mungkin tidak akan terlihat secara maksimal, sehingga waktu kunjungan menjadi faktor penting di sini.

Jika ingin suasana yang sedikit lebih sepi, sebaiknya datang pada hari kerja karena jumlah pengunjung biasanya tidak sebanyak saat akhir pekan.

Setelah menikmati keindahan air terjun, kamu bisa bersantai sejenak di sekitar kawasan sambil menikmati suasana yang masih alami. Jika memiliki waktu lebih, perjalanan dapat dilanjutkan ke beberapa destinasi lain di Bangli seperti Desa Penglipuran, Air Terjun Tibumana, atau Air Terjun Kanto Lampo yang masih dapat dijangkau dalam satu hari perjalanan.

14. Pantai Batu Bolong

Pantai Batu Bolong berada di kawasan Canggu, Kabupaten Badung. Nama pantai ini berasal dari batu karang berlubang yang menjadi salah satu ikon kawasan tersebut. 

Selain menjadi daya tarik tersendiri, formasi batu karang ini juga membuat Pantai Batu Bolong mudah dikenali dibandingkan pantai-pantai lain di sekitarnya.

Dibandingkan beberapa pantai lain di Canggu, Batu Bolong menawarkan perpaduan suasana santai, ombak yang digemari peselancar, serta deretan kafe yang berada tidak jauh dari bibir pantai.

Dari pusat Kota Denpasar, perjalanan menuju Pantai Batu Bolong umumnya memakan waktu sekitar 40 hingga 60 menit menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi lalu lintas. 

Akses menuju lokasi sudah sangat baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tak perlu khawatir, Pantai Batu Bolong juga memiliki area parkir juga tersedia, meski biasanya lebih ramai menjelang sore, terutama saat akhir pekan.

Selain menikmati sunset, banyak wisatawan datang untuk belajar surfing karena terdapat beberapa sekolah selancar yang menyewakan papan sekaligus menyediakan kelas bagi pemula. Jika tidak tertarik untuk berselancar, kamu tetap bisa bersantai di tepi pantai sambil menikmati suasana khas Canggu.

Di sekitar pantai juga terdapat banyak pilihan tempat makan, mulai dari warung lokal hingga kafe modern. Banyak pengunjung memilih menghabiskan waktu lebih lama di kawasan ini dengan mampir ke kafe atau warung setelah menikmati pantai. Suasananya yang santai membuat kawasan Batu Bolong tetap ramai hingga menjelang malam.

Apabila ingin menikmati suasana yang lebih tenang, datanglah pada pagi hari ketika aktivitas wisata belum terlalu ramai. Sementara jika ingin menikmati sunset, datang sekitar pukul 16.30 agar kamu memiliki waktu yang cukup untuk memilih spot terbaik sebelum matahari mulai terbenam.

15. Pantai Nunggalan

Di antara deretan pantai indah di kawasan Uluwatu, Pantai Nunggalan menjadi salah satu destinasi yang masih mempertahankan suasana alami. Pantai ini berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. 

Berbeda dengan Pantai Pandawa atau Melasti yang lebih mudah dijangkau, perjalanan menuju Pantai Nunggalan membutuhkan sedikit usaha karena pengunjung harus berjalan kaki menuruni tebing.

Dari area parkir, trekking menuju bibir pantai memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit, tergantung kecepatan berjalan. Jalurnya sudah cukup jelas, tetapi terdapat beberapa bagian yang cukup curam sehingga penggunaan sepatu atau sandal dengan grip yang baik sangat disarankan. 

Perjalanan turun memang membutuhkan sedikit usaha, tetapi pemandangan laut dari atas tebing membuatnya terasa sepadan.

Sesampainya di pantai, kamu akan disambut hamparan pasir putih yang luas, air laut berwarna biru jernih, serta ombak khas Samudra Hindia. Salah satu ikon Pantai Nunggalan adalah bangkai kapal yang terdampar di bibir pantai. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri dan sering dijadikan latar foto oleh para pengunjung.

Karena ombak di Pantai Nunggalan cukup besar, wisatawan sebaiknya berhati-hati jika ingin bermain air. Pantai ini lebih cocok dinikmati untuk berjalan santai, berjemur, menikmati suara ombak, atau sekadar mencari ketenangan jauh dari keramaian kawasan wisata utama.

Fasilitas di sekitar pantai masih terbatas dibandingkan pantai populer lainnya. Oleh karena itu, pastikan membawa air minum yang cukup, topi, sunblock, dan perlengkapan pribadi sebelum turun ke pantai. Jika ingin menikmati suasana yang lebih nyaman, datanglah pada pagi hari ketika matahari belum terlalu terik.

Lokasinya yang tidak jauh dari kawasan Uluwatu membuat Pantai Nunggalan mudah dipadukan dengan destinasi lain seperti Pantai Nyang Nyang, Pantai Suluban, atau Pura Luhur Uluwatu. Jika memiliki waktu lebih, ketiga destinasi tersebut bisa dikunjungi dalam satu hari perjalanan di kawasan Bali Selatan.

Tips Menjelajahi Destinasi Wisata Anti-Mainstream di Bali

Berbeda dengan objek wisata populer yang umumnya memiliki fasilitas lengkap, sebagian besar hidden gem di Bali yang telah OkeTiket rangkum masih mempertahankan kondisi alaminya. 

Hal ini membuat pengalaman berkunjung terasa lebih autentik, tetapi juga membutuhkan persiapan yang lebih matang. Untuk itu, kamu bisa mengikuti beberapa tips yang akan OkeTiket jelaskan dibawah ini:

1. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima

Sebagian destinasi berada cukup jauh dari pusat kota dan membutuhkan perjalanan yang tidak sebentar. Sebelum berangkat, pastikan kendaraan dalam kondisi baik agar perjalanan tetap aman dan nyaman.

2. Siapkan uang tunai secukupnya

Tidak semua lokasi parkir, warung, atau loket tiket sudah menerima pembayaran non-tunai. Membawa uang tunai akan mempermudah kamu untuk bertransaksi selama perjalanan.

3. Gunakan perlengkapan yang sesuai

Kenakan alas kaki yang nyaman, terutama jika destinasi mengharuskan trekking atau melewati jalur berbatu. Jangan lupa membawa air minum, topi, sunblock, jas hujan ringan, serta power bank agar perjalanan tetap nyaman.

4. Pilih waktu berkunjung yang tepat

Datanglah pada pagi atau sore hari untuk menghindari cuaca yang terlalu panas sekaligus mendapatkan pencahayaan yang lebih baik jika ingin berfoto.

5. Hormati lingkungan dan aturan setempat

Selalu ikuti aturan yang berlaku, terutama jika berada di kawasan suci atau lahan milik masyarakat. Jangan membuang sampah sembarangan agar keindahan destinasi tetap terjaga.

6. Susun itinerary berdasarkan wilayah

Jika ingin mengunjungi beberapa destinasi sekaligus, sebaiknya kelompokkan berdasarkan lokasinya. Misalnya, destinasi di Karangasem dapat dijelajahi dalam satu hingga dua hari, sementara kawasan Kintamani dan Bangli bisa dijadikan perjalanan terpisah.

Dengan begitu, waktu di perjalanan menjadi lebih efisien dan kamu dapat menikmati setiap destinasi dengan lebih santai.

Bali selalu punya alasan untuk membuat wisatawan ingin kembali. Di balik ramainya kawasan seperti Kuta, Seminyak, Canggu, atau Ubud, masih banyak destinasi wisata di Bali anti-mainstream yang menawarkan pengalaman berbeda. 

Mulai dari savana yang membentang di kaki Gunung Agung, desa pegunungan dengan panorama sunrise, air terjun yang berada di balik celah tebing, hingga pantai-pantai yang masih relatif tenang, semuanya menghadirkan sisi lain Pulau Dewata yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya.

Menjelajahi hidden gem bukan hanya soal mencari tempat yang belum ramai. Pengalaman ini juga memberi kesempatan untuk mengenal budaya lokal, menikmati alam dengan lebih tenang, serta mendukung destinasi yang mulai berkembang tanpa harus terjebak di keramaian wisata utama.

Agar perjalanan semakin nyaman, susun itinerary sesuai lokasi destinasi yang ingin dikunjungi. Dengan perencanaan yang baik, kamu bisa menghemat waktu perjalanan sekaligus menikmati lebih banyak tempat dalam satu liburan.

Di OkeTiket, kami percaya bahwa setiap perjalanan akan terasa lebih berkesan ketika kamu menemukan tempat yang sesuai dengan gaya liburanmu. Karena itu, OkeTiket akan terus menghadirkan berbagai inspirasi destinasi, panduan perjalanan, dan informasi wisata yang dapat membantumu merencanakan liburan dengan lebih mudah dan menyenangkan.