Pertunjukan seni Betawi kerap digelar di ampiteater terbuka di tepi danau, dikelilingi jalur pejalan kaki dan pepohonan yang meneduhkan. Inilah pemandangan yang biasanya menyambutmu saat tiba di Setu Babakan pada akhir pekan. Kawasan ini berada di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tepat di perbatasan Jakarta dan Depok, dan dikenal sebagai perkampungan budaya Betawi yang memadukan area perkampungan tradisional dengan ruang publik di sekitar danau.
Setu Babakan berlokasi di koridor Jalan Mohammad Kahfi I dan Jalan Mohammad Kahfi II, dua ruas jalan utama yang mengitari area danau. Dari pusat Jakarta seperti Sudirman atau Thamrin, perjalanan berkendara umumnya memakan waktu sekitar 40 hingga 60 menit tergantung lalu lintas, dengan rute yang sering dipakai menuju lingkar luar TB Simatupang lalu berbelok ke Jagakarsa. Jika menggunakan KRL Commuter Line, stasiun terdekat yang lazim dipakai adalah Stasiun Lenteng Agung atau Stasiun Tanjung Barat. Dari kedua stasiun ini, kamu dapat melanjutkan naik ojek daring atau taksi sekitar 10 hingga 20 menit menuju gerbang kawasan di Mohammad Kahfi. Angkutan umum lokal dan mikrotrans beroperasi di sekitar Lenteng Agung dan Jagakarsa dan menghubungkan ke koridor Mohammad Kahfi, meskipun waktu tempuhnya bergantung pada rute dan perpindahan kendaraan.
Bagi pengunjung yang membawa kendaraan, akses ke kawasan relatif jelas dengan penunjuk arah di sepanjang Mohammad Kahfi. Terdapat beberapa titik pintu masuk di sisi jalan, yang mengarahkan ke area parkir lalu ke tepi danau. Dari area parkir, jalur pejalan kaki mengelilingi tepian setu sehingga kamu bisa berpindah dari zona kuliner ke ampiteater atau ke kompleks rumah budaya tanpa perlu kembali ke jalan raya. Jalur ini umumnya datar dengan beberapa bagian yang diberi pelindung tepi, sehingga mudah diakses untuk berjalan santai.
Lanskap Setu Babakan berpusat pada danau buatan yang dikelilingi ruang terbuka dan perkampungan. Permukaan air menjadi latar bagi aktivitas rekreasi ringan seperti naik sepeda air yang dioperasikan oleh penyedia lokal pada jam-jam tertentu. Di tepian danau, pepohonan besar memberi keteduhan di beberapa segmen jalur, sementara bangku-bangku dan gazebo sederhana bisa ditemukan di titik istirahat. Pada sisi lain kawasan, berdiri rumah-rumah bergaya Betawi yang difungsikan sebagai rumah budaya, galeri, dan area edukasi. Beberapa rumah menampilkan bentuk arsitektur yang sering disebut rumah kebaya dan digunakan untuk kegiatan komunitas, pameran kecil, atau pertemuan budaya.
Inti dari kunjungan ke Setu Babakan adalah pertemuan langsung dengan kebudayaan Betawi dalam bentuk yang masih dipraktikkan. Pada hari Sabtu dan Minggu, kawasan ini lebih hidup oleh kegiatan seni tradisional seperti musik gambang kromong, tari, silat Betawi, hingga teater rakyat lenong yang dijadwalkan oleh pengelola pada waktu-waktu tertentu. Penampilan tersebut biasanya terpusat di ampiteater tepi danau atau di panggung komunitas. Di luar jam pertunjukan, kamu tetap dapat menjelajahi zona perkampungan dan melihat detail keseharian, seperti bengkel kerajinan, peralatan musik tradisional yang disimpan di sanggar, atau properti pertunjukan yang dipakai komunitas lokal.
Kuliner khas menjadi alasan lain untuk datang. Di sepanjang sisi danau dan area yang dikenal sebagai zona kuliner, pedagang menyediakan makanan dan minuman khas Betawi. Pilihan yang umum ditemui termasuk kerak telor yang dibuat langsung di atas tungku arang, soto Betawi dengan kuah santan, asinan Betawi, bir pletok yang bebas alkohol, serta kue-kue tradisional seperti dodol Betawi. Harga makanan bervariasi sesuai penjual, namun jajanan dan santapan sederhana bisa disesuaikan dengan bujet keluarga. Pada akhir pekan, jumlah pedagang yang buka cenderung lebih banyak dibanding hari biasa.
Untuk pengunjung yang ingin memahami latar budaya secara lebih terstruktur, terdapat gedung pusat informasi dan museum yang memaparkan unsur-unsur budaya Betawi. Di dalamnya, materi pameran menjelaskan tentang bahasa, pakaian adat, alat musik, kesenian pertunjukan, hingga tradisi kuliner. Papan informasi membantu mengenali ragam kesenian dan istilah yang mungkin kamu temui di panggung, seperti ondel-ondel, tanjidor, dan tari topeng. Materi pameran memberi konteks sehingga aktivitas di luar ruang lebih mudah dipahami.
Ruang publik di Setu Babakan dirancang untuk keluarga. Banyak pengunjung yang menghabiskan waktu dengan berjalan mengelilingi setu, berhenti untuk makan, lalu menonton pertunjukan. Beberapa sudut dimanfaatkan untuk permainan anak sederhana yang dioperasikan pelaku usaha kecil. Jika kamu berencana datang bersama rombongan, ada area lapang untuk berkumpul sebelum berpindah ke zona lain. Pada musim hujan atau saat debit air meningkat, beberapa jalur tepi danau bisa terasa lebih lembap, sehingga pengunjung biasanya memilih jalur yang lebih tinggi atau bergerak melalui area dalam perkampungan.
Fasilitas yang tersedia mencakup area parkir, toilet umum di beberapa titik, tempat sampah, serta pos informasi. Di akhir pekan saat pengunjung lebih banyak, petugas keamanan dan kebersihan terlihat berkeliling di beberapa zona. Kios-kios kuliner menetap berdampingan dengan pedagang musiman, dan umumnya menerima pembayaran tunai. Akses ATM dapat ditemukan di sepanjang koridor jalan utama di luar kawasan, terutama ke arah Lenteng Agung dan Jagakarsa.
Kedekatan Setu Babakan dengan beberapa titik kenalan di Jakarta Selatan membantu menyusun rencana kunjungan yang ringkas. Ragunan, yang dikenal dengan kebun margasatwanya, berada sekitar 20 hingga 40 menit berkendara ke arah timur laut, tergantung kemacetan di Pasar Minggu. Taman Tabebuya Jagakarsa, sebuah taman kota kecil yang sering dipakai warga untuk berolahraga, berjarak beberapa kilometer ke arah timur dan dapat menjadi perhentian singkat sebelum atau sesudah dari setu. Ke arah selatan, kawasan Universitas Indonesia di Depok bisa dicapai dengan mobil sekitar 20 hingga 30 menit, melewati koridor Lenteng Agung dan Margonda. Kedekatan ini memungkinkanmu menggabungkan kunjungan budaya, rekreasi alam ringan, dan aktivitas kota dalam satu hari.
Bila memulai perjalanan dari area TB Simatupang, akses paling langsung adalah mengambil jalan-jalan lingkungan menuju Jagakarsa dan mengikuti penunjuk arah ke Mohammad Kahfi. Penggunaan taksi daring cukup lazim di sini dan pengemudi umumnya sudah mengenal pintu masuk kawasan. Dari arah Depok, jalan Margonda mengarah ke Lenteng Agung lalu berbelok ke selatan, atau menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Srengseng Sawah menuju Mohammad Kahfi. Pada jam sibuk pagi dan sore di hari kerja, kemacetan bisa terjadi di simpang-simpang utama, sehingga waktu tempuh berubah signifikan.
Pengalaman berkunjung pada hari kerja dan akhir pekan cukup berbeda. Pada hari kerja, kawasan cenderung lebih lengang. Kamu bisa lebih leluasa berjalan di tepian setu dan mengamati bangunan-bangunan rumah budaya. Akhir pekan adalah waktu yang direkomendasikan jika tujuanmu menonton pertunjukan atau mencari kuliner khas dengan pilihan yang lebih banyak. Dengan asumsi kedatangan di pagi atau menjelang siang, satu hari terbilang cukup untuk berkeliling dan menonton satu atau dua kegiatan seni. Estimasi biaya kunjungan wajar berada pada kisaran Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per orang, yang umumnya terpakai untuk makan, minum, dan aktivitas ringan seperti menyewa sepeda air atau parkir, tergantung pilihanmu di lokasi.
Kawasan setu memadukan area pejalan kaki yang teduh dan ruang terbuka yang sering digunakan komunitas. Fotografi budaya menjadi aktivitas yang sering dilakukan pengunjung, terutama ketika ada penampilan kelompok seni atau peragaan busana adat. Pengelola dan komunitas lokal terkadang menyelenggarakan kegiatan tematik pada momen-momen tertentu di kalender budaya, sehingga jadwal pertunjukan bisa berbeda dari satu akhir pekan ke akhir pekan lainnya. Walau demikian, kehadiran pedagang kuliner khas dan rumah-rumah budaya memberi alasan yang cukup untuk berkunjung kapan saja.
Bagi yang ingin memperluas eksplorasi di sekitar Jagakarsa, koridor Lenteng Agung menyediakan deretan warung makan dan kedai kopi yang dapat dicapai dengan berkendara singkat dari setu. Jika membutuhkan akomodasi, pilihan hotel dan penginapan lebih banyak ditemukan ke arah Pasar Minggu, Cilandak, atau Depok, yang semuanya berada dalam jangkauan 20 hingga 45 menit tergantung lalu lintas. Belanja kebutuhan harian, obat, atau peralatan ringan bisa dilakukan di minimarket dan apotek yang tersebar di sepanjang Mohammad Kahfi maupun Lenteng Agung.
Setu Babakan menekankan kombinasi rekreasi harian dan pengenalan budaya. Di satu sisi terdapat danau dengan aktivitas ringan dan area hijau. Di sisi lain, komunitas Betawi menggunakan ruang yang sama untuk mempraktikkan seni pertunjukan, mengelola rumah budaya, dan menyajikan kuliner. Keduanya menciptakan pengalaman yang mudah diakses dari berbagai penjuru Jakarta Selatan maupun Depok. Jika kamu mencari tempat yang memungkinkan belajar tradisi lokal sambil menghabiskan waktu bersama keluarga, kawasan ini menyediakan struktur yang jelas: datang, berjalan menyusuri tepi setu, mampir ke pusat informasi dan rumah budaya, lalu menutup kunjungan dengan menonton pertunjukan dan mencicipi hidangan khas.
Akses yang dekat dari stasiun KRL, tersedianya transportasi daring, serta koridor jalan utama yang langsung mengelilingi danau membuat perjalanan ke Setu Babakan relatif praktis. Kombinasi danau, perkampungan budaya, kuliner, dan ruang pertunjukan yang aktif di akhir pekan menjadikan satu hari kunjungan terasa padat tanpa harus berpindah ke banyak lokasi lain. Dengan perencanaan sederhana, kamu dapat mengatur ritme kunjungan yang sesuai, baik berangkat pagi untuk berjalan santai dan makan siang di zona kuliner, atau datang menjelang siang untuk fokus pada jadwal pertunjukan dan kegiatan budaya yang sedang berlangsung.