Titik daratan ini membentuk tepian luar sebuah atol yang mengelilingi laguna berwarna biru. Itulah Maratua, salah satu pulau utama di gugus Kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan Timur. Bagian tepinya berupa dinding karang yang jatuh curam ke laut dalam, sementara sisi dalamnya ditandai perairan lebih teduh yang terlindung oleh cincin terumbu. Kombinasi ini membuat kawasan Maratua dikenal sebagai wilayah penyelaman dan snorkeling, dengan visibilitas biasanya baik pada musim kemarau dan kesempatan melihat penyu hijau yang sering melintas di sekitar terumbu.
Dari Tanjung Redeb, pusat Kabupaten Berau, perjalanan darat menuju pelabuhan Tanjung Batu menempuh sekitar 2 hingga 3 jam tergantung kondisi lalu lintas dan jalan. Rute ini umumnya melalui jalan kabupaten yang sudah beraspal. Dari Tanjung Batu, perahu cepat ke Pulau Maratua biasanya memakan waktu sekitar 1 hingga 2 jam, dipengaruhi kondisi cuaca dan tipe perahu. Banyak penginapan dan operator lokal yang mengatur penjemputan dengan perahu dari pelabuhan ini untuk tamu yang sudah mengonfirmasi kedatangan. Akses laut juga dimungkinkan dari Pulau Derawan atau Tarakan melalui charter perahu cepat, dengan waktu tempuh yang lebih panjang jika gelombang tinggi. Setibanya di Maratua, dermaga utama di beberapa desa menjadi titik naik turun penumpang dan logistik.
Maratua mempunyai beberapa perkampungan pesisir yang menjadi pintu gerak harian penduduk dan tamu. Nama-nama seperti Teluk Harapan, Payung-payung, dan Bohe Silian sering disebut saat merujuk lokasi penginapan, dermaga desa, atau warung. Jalan beton menghubungkan sebagian besar desa di sisi berpenduduk, sehingga sepeda motor menjadi moda mobilitas yang lazim. Perahu kayu bermesin milik warga juga dimanfaatkan sebagai transportasi antardesa atau menuju spot laut terdekat, terutama ketika mengangkut penyelam dan perlengkapannya.
Bagi penyelam, struktur maritim di sekitar Maratua mencakup dinding luar atol, lereng terumbu, dan area pasir dengan karang bongkah. Beberapa operator lokal menamai lokasi-lokasi penyelaman sesuai ciri arus dan satwa yang sering terlihat. Penyu hijau menjadi satwa yang paling konsisten ditemui di banyak titik, diikuti gerombolan ikan karang, barakuda, dan kerap kali pari elang. Kondisi arus bisa berubah sesuai pasang surut, sehingga penentuan titik masuk dan keluar umumnya diatur pemandu setempat. Untuk snorkeling, banyak penginapan berada di depan rataan terumbu yang dapat diakses langsung dari tangga dermaga atau bibir pantai saat air pasang, dengan kewajiban menjaga jarak dari karang agar tidak merusak struktur yang rapuh.
Maratua juga dikaitkan dengan aktivitas pelestarian penyu. Di kawasan ini dan pulau-pulau sekitar seperti Sangalaki terdapat upaya perlindungan terhadap peneluran penyu. Pada musim tertentu, jejak penyu dapat ditemukan di beberapa garis pantai, dan beberapa fasilitas edukasi di wilayah Kepulauan Derawan memberikan informasi tentang siklus hidup penyu serta program pelepasan tukik. Pengunjung biasanya mengikuti kegiatan tersebut melalui koordinasi penginapan atau operator yang bekerja sama dengan petugas setempat.
Di sisi utara Maratua terdapat sebuah kolam alami yang dikenal luas sebagai Haji Mangku. Bentuknya menyerupai lubang runtuhan batuan yang terisi air laut berwarna biru. Akses ke lokasi ini memerlukan perjalanan darat singkat dari desa terdekat, dilanjutkan berjalan kaki melalui jalur tanah dan batu. Kolamnya terhubung ke laut melalui celah bawah tanah, sehingga kadar garam mengikuti pasang surut. Pengunjung datang untuk melihat formasi geologisnya dari tepi tebing, sementara sebagian memilih turun ke air pada area yang digunakan publik. Saat arus dan ombak kuat, pergerakan air di celah dapat terasa, sehingga kehadiran pemandu lokal yang memahami kondisi setempat sangat membantu.
Kawasan sekitar Maratua memudahkan penyusunan wisata sehari ke pulau tetangga. Kakaban, yang terkenal dengan danau ubur-ubur tanpa sengat, dapat dicapai dengan perahu cepat dari Maratua. Perjalanan umumnya berkisar 30 hingga 45 menit, lalu dilanjutkan berjalan kaki melintasi jalur papan untuk mencapai danau. Sangalaki berada sedikit lebih jauh dengan waktu tempuh perahu sekitar 45 hingga 60 menit, dikenal sebagai area perlintasan pari manta dan kegiatan konservasi penyu. Pulau Derawan sendiri berfungsi sebagai simpul transportasi untuk naik turun penumpang dan logistik, serta tempat singgah yang memiliki lebih banyak toko dan pilihan makan sederhana.
Maratua menyediakan ragam akomodasi, dari homestay di desa hingga resor khusus penyelam yang berlokasi di tepi laut. Penginapan resor biasanya memiliki dermaga sendiri untuk memudahkan keberangkatan perahu selam dan snorkeling, ruang peralatan, serta kompresor. Homestay menawarkan kamar sederhana dengan fasilitas dasar, sering kali dikelola keluarga di desa-desa pesisir. Warung makan lokal dapat ditemukan di desa, menyajikan menu rumahan dan hasil laut sesuai ketersediaan. Beberapa properti resor mengoperasikan restoran bagi tamu mengingat jarak dari pusat permukiman. Fasilitas perbankan sangat terbatas di pulau ini, sehingga banyak pengunjung menyiapkan kebutuhan pembayaran sebelum berangkat dari daratan utama Berau.
Karakter pantai di Maratua bervariasi. Ada bagian pulau dengan hamparan pasir relatif landai yang digunakan untuk berjemur, berjalan, dan peluncuran perahu kecil saat air pasang. Di sisi lain, tepi pulau berubah menjadi deretan batu karang dan tebing rendah yang langsung berbatasan dengan air dalam, mengingat posisinya sebagai tepi luar atol. Vegetasi pesisir mencakup pohon pantai dan semak khas daerah tropis, sementara area yang tidak berpenduduk masih tertutup vegetasi alami. Pada musim kemarau, cuaca lebih cerah dan laut cenderung lebih tenang, bermanfaat untuk aktivitas laut dan perpindahan antarpulau.
Dalam hal durasi, kunjungan 3 hingga 4 hari memberi waktu yang cukup untuk tiba, melakukan satu hingga dua kali kegiatan laut per hari, serta menyisipkan perjalanan ke pulau tetangga. Estimasi biaya perjalanan dasar berada pada kisaran Rp 3.000.000 hingga 5.000.000 per orang, bergantung moda transportasi laut yang dipilih, tipe akomodasi, serta paket aktivitas seperti penyelaman berlisensi, sewa perlengkapan, dan tiket masuk lokasi tertentu di pulau sekitar. Bagi penyelam bersertifikat, biaya tambahan meliputi pemandu, tabung, penggunaan perahu, dan asuransi sesuai kebijakan operator. Bagi yang fokus snorkeling, banyak penginapan mengatur penyewaan peralatan masker, snorkel, dan fin, atau menyarankan tamu membawa peralatan sendiri.
Waktu kunjungan yang paling kondusif umumnya antara April hingga Oktober. Pada rentang ini curah hujan lebih rendah dibanding puncak musim hujan, sehingga jarak pandang bawah air biasanya lebih stabil dan penyeberangan antarpulau lebih teratur. Pada periode angin yang lebih kuat, operator lokal menilai ulang rencana berangkat, termasuk pilihan sisi pulau yang lebih terlindung untuk snorkeling dan selam. Kesiapan jadwal yang fleksibel membantu menyesuaikan kegiatan harian terhadap kondisi laut.
Bagi kamu yang datang dari luar Kalimantan Timur, penerbangan menuju Tanjung Redeb melalui Bandara Kalimarau menjadi akses udara utama ke wilayah Berau. Dari sana, penyelenggara transportasi darat menyediakan mobil sewaan atau kendaraan penginapan untuk menuju Tanjung Batu. Beberapa tamu memilih menginap satu malam di Tanjung Redeb atau Pulau Derawan untuk menyesuaikan jadwal perahu. Di sisi lain, terdapat sebuah bandara perintis di Pulau Maratua yang digunakan oleh penerbangan tertentu dan penerbangan sewaan, dengan pengaturan yang biasanya dikoordinasikan penginapan atau operator tur. Setelah tiba di pulau, pilihan mobilitas setempat bergantung pada kombinasi jalan darat antardesa dan perahu untuk menjangkau spot perairan.
Jika fokusmu pada pengalaman laut, struktur atol membuat variasi aktivitas dapat direncanakan bertahap. Hari pertama sering diisi orientasi perairan dekat penginapan untuk mengenali arus dan rataan terumbu. Hari berikutnya dapat dimanfaatkan untuk dinding luar yang lebih dalam bagi penyelam berlisensi, atau perjalanan singkat ke kolam Haji Mangku untuk melihat fenomena geologis. Hari lainnya cocok untuk menyeberang ke Kakaban atau Sangalaki, bergantung pada target pengamatan seperti ubur-ubur dan pari manta. Dengan jarak antarpulau yang ditempuh perahu cepat kurang dari dua jam, pengaturan perjalanan harian masih memungkinkan kembali ke Maratua sebelum sore.
Fasilitas umum di pulau mencakup dermaga desa, balai pertemuan, tempat ibadah, sekolah, dan fasilitas kesehatan dasar. Kebutuhan logistik harian didistribusikan dengan perahu dari daratan utama dan pusat-pusat di pulau tetangga. Untuk perlengkapan penyelaman, sebagian besar resort selam memiliki stok peralatan, sementara homestay sering bekerja sama dengan operator perahu setempat. Pengelolaan sampah dan praktik konservasi laut menjadi perhatian kolektif di kawasan Kepulauan Derawan, dan banyak operator menerapkan kebijakan tidak menyentuh karang, tidak memberi makan satwa laut, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama kegiatan di laut.
Kedekatan Maratua dengan titik-titik perairan produktif membuat satwa pelagis kadang melintas di sisi luar atol. Arus di saluran-saluran tertentu dapat cukup kuat pada waktu pasang, sehingga pemandu menilai kemampuan peserta sebelum memasuki lokasi semacam ini. Untuk snorkeling, pelampung tambahan sering disediakan untuk membantu istirahat di permukaan tanpa menginjak karang. Kegiatan fotografi bawah air lazim dilakukan, namun lampu strobo dan posisi fotografer diatur agar tidak merusak biota sesil seperti kipas laut dan spons.
Bagi yang tidak menyelam, aktivitas tetap banyak. Berjalan di desa pesisir memberi gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat pulau, termasuk aktivitas menangkap ikan skala kecil, perahu yang bersandar mengisi bahan bakar, serta pergerakan barang ke dan dari dermaga. Pada jam tertentu, sekolah-sekolah tampak ramai, dan beberapa warung membuka lapak sederhana untuk kebutuhan harian seperti air minum kemasan, mi, atau kopi. Jalur beton antardesa yang relatif datar memudahkan bersepeda jika penginapan menyediakan atau menyewakan sepeda, terutama pada jam ketika matahari tidak terlalu terik.
Maratua berada dalam rantai destinasi yang saling terhubung di Laut Sulawesi. Karena jarak antarpulau ditempuh perahu, perencanaan yang memperhitungkan kondisi angin, jadwal air pasang, dan koordinasi dengan operator lokal membantu memastikan perpindahan berlangsung lancar. Dengan menempatkan Maratua sebagai basis, kamu dapat menggabungkan penyelaman di dinding luar atol, snorkeling di rataan terumbu, kunjungan ke fenomena karst Haji Mangku, serta perjalanan harian ke Kakaban dan Sangalaki yang menjadi pelengkap kuat bagi gambaran keanekaragaman hayati laut di Berau.