Tulisan huruf besar City of Makassar di tepi laut menjadi penanda paling mudah dikenali ketika kamu tiba di Pantai Losari. Kawasan ini berada di sepanjang Jalan Penghibur, berhadapan langsung dengan Selat Makassar. Bukan pantai berpasir untuk berenang, Losari berbentuk anjungan dan tanggul beton lebar yang difungsikan sebagai ruang terbuka publik. Area pejalan kaki, plaza, dan beberapa anjungan tematik menjadi tempat orang berkumpul, berfoto, dan menikmati pemandangan matahari terbenam di arah barat.

Dari pusat Kota Makassar seperti sekitar Jalan Jenderal Sudirman atau kawasan Balai Kota, jarak ke Pantai Losari hanya beberapa kilometer. Waktu tempuhnya sekitar 10 sampai 20 menit dengan mobil atau motor tergantung kemacetan. Akses menuju lokasi mengikuti koridor jalan utama kota seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Somba Opu, dan kemudian masuk ke Jalan Penghibur yang berada persis di tepi air. Taksi dan layanan ride-hailing beroperasi luas di Makassar dan menjadi pilihan praktis karena titik turunnya bisa ditetapkan langsung di area anjungan. Banyak pengunjung juga datang dengan kendaraan pribadi atau motor dan memarkir di kantong parkir serta tepi jalan resmi yang tersebar di sekitar anjungan.

Jika kamu datang dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Kabupaten Maros, perjalanan menuju Pantai Losari umumnya memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam dengan mobil pada kondisi lalu lintas normal. Rute tercepat biasanya melalui jalan tol dan koridor utama menuju pusat kota sebelum berbelok ke kawasan pantai. Dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar yang berada di sisi utara pusat kota, waktu tempuh ke Losari berkisar 15 sampai 25 menit dengan kendaraan.

Kawasan yang dikenal sebagai Anjungan Pantai Losari mencakup beberapa plaza dan jalur pedestrian yang saling terhubung. Di sepanjang anjungan terdapat area duduk, tempat terbuka untuk acara, dan titik foto dengan tulisan besar, termasuk nama-nama kelompok etnis Sulawesi Selatan yang sering terlihat di permukaan anjungan. Permukaan jalannya rata dan cukup lebar sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Pada pagi hari, warga setempat memanfaatkan jalur ini untuk joging atau bersepeda santai. Menjelang sore hingga malam, aktivitas bergeser menjadi berfoto dan menikmati jajanan yang dijual pedagang di sekitar jalan tepi laut.

Pemandangan utama mengarah ke Selat Makassar. Kapal-kapal niaga dan perahu nelayan terkadang terlihat melintas di kejauhan. Pada akhir pekan dan hari libur, jumlah pengunjung cenderung meningkat, terutama menjelang matahari terbenam. Pada musim kemarau, cuaca cenderung lebih cerah sehingga peluang melihat siluet matahari yang turun ke cakrawala lebih tinggi dibanding musim hujan, walaupun tentu bergantung pada kondisi awan harian.

Satu hal yang perlu dipahami adalah Losari bukan kawasan untuk berenang karena garis pantainya didominasi tanggul beton. Aktivitas utama yang dilakukan pengunjung meliputi berjalan di sepanjang promenade, duduk di area anjungan, memotret latar tulisan City of Makassar, serta mencoba makanan khas yang dijajakan di sisi jalan. Pisang epe, kudapan pisang yang dibakar dan diberi saus gula merah, menjadi salah satu jajanan yang banyak dicari. Minuman dingin dan beberapa hidangan khas Makassar seperti es pisang ijo juga mudah ditemukan di sekitar kawasan ini. Di ruas Jalan Penghibur dan jalan-jalan sekitarnya, terdapat restoran dan kafe, termasuk tempat makan seafood serta rumah makan yang menyajikan menu khas Sulawesi Selatan.

Secara fasilitas, area ini berfungsi sebagai ruang publik kota. Jalur pedestrian luas, bangku dan tepian undak-undakan tersedia untuk duduk, serta ada penerangan yang memadai pada malam hari. Sejumlah titik parkir resmi berada di sekitar anjungan. Toilet umum dapat ditemukan di area tertentu di sekitar anjungan dan pusat keramaian tepi jalan, meski ketersediaannya bisa lebih ramai pada jam kunjungan puncak. Tempat ibadah terdekat adalah Masjid Amirul Mukminin yang dikenal sebagai masjid terapung di atas tiang pancang, berada di tepi air tidak jauh dari anjungan. Jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari area utama Pantai Losari.

Posisi Pantai Losari strategis untuk mengunjungi beberapa titik lain di pusat Makassar. Fort Rotterdam, benteng peninggalan masa lalu yang kini difungsikan sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya, berada di sisi utara anjungan dan bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Losari melalui jalur tepi pantai dan Jalan Ujung Pandang. Kawasan perdagangan Somba Opu yang terkenal sebagai sentra oleh-oleh, perhiasan emas, dan kerajinan juga berada di dekat sini, sehingga kamu dapat menggabungkan kunjungan ke Losari dengan belanja suvenir dalam satu rute jalan kaki. Ke arah selatan, koridor Jalan Metro Tanjung Bunga mengarah ke pusat hiburan dalam ruangan dan kawasan pesisir lain yang menjadi bagian dari rute kunjungan keluarga.

Jika kamu tertarik ke pulau-pulau kecil di lepas pantai Makassar, pelabuhan rakyat Kayu Bangkoa berada tidak jauh di utara Losari. Dari sana, perahu-perahu biasanya melayani rute ke pulau-pulau terdekat seperti Lae-Lae dan destinasi lain di sekitar perairan Makassar. Akses ke pelabuhan ini dapat dicapai dengan kendaraan dari Losari dalam hitungan menit, tergantung kondisi lalu lintas di jalan tepi pantai.

Aktivitas kuliner malam menjadi bagian besar dari pengalaman berkunjung ke Pantai Losari. Setelah senja, pedagang kaki lima semakin banyak di sepanjang ruas jalan di sekitarnya. Menu yang umum ditemui meliputi pisang epe dengan variasi topping, minuman segar, serta beberapa hidangan cepat saji khas daerah. Banyak pengunjung memilih duduk di undak-undakan anjungan atau tepi beton menghadap laut sambil menyantap jajanan. Restoran keluarga dan kafe berjajar di sepanjang Jalan Penghibur dan Jalan Pattimura yang berpotongan di kawasan ini, memberikan opsi ruang duduk lebih formal.

Waktu kunjungan paling ramai terjadi pada akhir pekan, sesuai rekomendasi kunjungan Sabtu sampai Minggu. Jika kamu ingin suasana yang relatif lebih lengang, pagi hari pada hari kerja biasanya lebih sepi. Satu hari sudah cukup untuk mengeksplorasi kawasan ini dan titik-titik terdekat di pusat kota. Tidak ada tiket masuk untuk menikmati anjungan dan jalur pedestrian, sehingga biaya utama yang perlu disiapkan berkaitan dengan transportasi, makanan, dan parkir. Dengan kisaran Rp 100.000 hingga Rp 300.000, kamu sudah dapat mencakup ongkos perjalanan dalam kota, membeli jajanan, dan menikmati minuman atau makanan ringan di sekitar anjungan, meski tentu bergantung pada pilihan tempat makan dan jarak tempuh.

Bagi yang membawa keluarga atau rombongan, area terbuka yang luas memudahkan untuk bergerak bersama. Pada jam-jam tertentu, terutama sore hingga malam, petugas dan pengatur lalu lintas berjaga di titik padat untuk mengelola arus kendaraan, karena banyak kendaraan berhenti untuk menurunkan penumpang di dekat tulisan City of Makassar atau anjungan foto lain. Jika kamu berencana memotret latar tulisan besar, datang sedikit lebih awal sebelum puncak matahari terbenam akan memudahkan mendapatkan ruang berdiri yang lapang.

Kondisi cuaca di Makassar cenderung panas dan lembap sepanjang hari. Payung atau topi berguna jika berkunjung siang hari ketika naungan alami tidak terlalu banyak di area terbuka anjungan. Pagi hari sering dimanfaatkan untuk olahraga ringan dengan suhu yang lebih bersahabat. Pada malam hari, angin laut terasa lebih sejuk, dan lampu-lampu di sepanjang promenade membantu visibilitas kawasan. Keamanan dibantu oleh keberadaan petugas dan banyaknya pengguna ruang publik, namun tetap disarankan menjaga barang pribadi karena kawasan ini merupakan titik keramaian kota.

Dari sisi orientasi, batas selatan dan utara kawasan Pantai Losari mudah dikenali melalui rangkaian anjungan dan pertigaan jalan utama. Di sisi darat, deretan hotel kota, restoran, dan pertokoan memanjang mengikuti koridor Jalan Penghibur hingga bertemu area Fort Rotterdam dan Jalan Ujung Pandang. Sisi laut berupa tanggul beton dengan beberapa undakan dan dermaga kecil yang digunakan untuk aktivitas tertentu. Area ini datar dan ramah untuk berjalan kaki, sehingga menggabungkan kunjungan ke Losari dengan titik lain di pusat kota dapat dilakukan tanpa kendaraan untuk jarak dekat.

Kawasan Pantai Losari mencerminkan fungsi ruang terbuka tepi air di pusat Makassar. Fokus utamanya adalah pengalaman berjalan kaki, berkumpul, memotret latar tulisan kota, serta menikmati jajanan sore hingga malam. Dengan akses yang mudah dari berbagai bagian kota, kedekatan dengan Fort Rotterdam dan Masjid Amirul Mukminin, serta tersedianya pilihan tempat makan di sekitar anjungan, tempat ini sering menjadi pemberhentian pertama atau terakhir dalam rangkaian kunjungan di pusat Makassar.