Di tepi jalan utama yang menghubungkan kawasan Kuta Mandalika dengan bagian utara Lombok, Desa Sade berdiri sebagai permukiman suku Sasak yang masih ditempati warganya hingga sekarang. Lokasinya berada di Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, sekitar 8 kilometer dari Pantai Kuta Mandalika dan kurang lebih 25 menit berkendara dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Plang penunjuk arah bertuliskan “Desa Sade” terlihat dari jalan raya, dan area parkir berada tepat di dekat pintu masuk desa.

Kawasan ini terdiri dari deretan rumah tradisional dengan atap ilalang, dinding anyaman bambu, serta lumbung padi berbentuk panggung yang dikenal sebagai lumbung. Banyak rumah berfungsi ganda sebagai tempat tinggal dan ruang kerja keluarga. Di beberapa bangunan, kamu akan menemukan aktivitas menenun kain secara manual, sebuah keterampilan yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan perempuan Sasak di desa ini. Kain yang dihasilkan mencakup tenun ikat dan songket dengan motif yang dikenali dari pola geometris dan warna kontras.

Sade berada di jalur yang sama menuju pantai-pantai populer di selatan Lombok, sehingga mudah disinggahi dalam perjalanan dari atau ke Mandalika. Dari Kuta Mandalika, perjalanan ke Sade biasanya memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit dengan mobil atau sepeda motor melalui Jalan Kuta Rembitan. Dari bandara, rute tercepat umumnya melalui Bypass Bandara menuju arah selatan, lalu berbelok ke Rembitan. Dari Kota Mataram, waktu tempuh cenderung antara satu hingga satu setengah jam, bergantung pada kondisi lalu lintas, dengan pilihan rute melalui Praya atau jalur pesisir barat daya sebelum berbelok ke arah selatan.

Sarana transportasi yang lazim digunakan pengunjung meliputi kendaraan pribadi, sewa mobil dengan pengemudi, taksi bandara, serta ojek dan taksi daring yang beroperasi di area ramai di Lombok bagian selatan. Akses jalannya beraspal hingga ke pintu masuk desa. Jika kamu datang dengan rombongan, bus kecil dapat menurunkan penumpang di tepi jalan dekat area parkir, lalu kendaraan perlu diparkir sesuai arahan petugas setempat.

Begitu masuk, pengunjung biasanya didampingi pemandu dari warga desa. Pendampingan ini membantu kamu memahami fungsi bangunan, tata ruang permukiman, hingga adat-istiadat yang masih dijalankan keluarga setempat. Beberapa pemandu dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris sederhana. Tur berlangsung dengan berjalan kaki melalui gang-gang tanah yang menghubungkan kelompok rumah. Di sejumlah rumah, pemilik memajang kain tenun, selendang, atau sarung yang bisa dilihat dari dekat, dan dijual langsung kepada pengunjung.

Rumah-rumah tradisional di Sade memiliki bentuk yang relatif rendah dengan struktur penopang dari kayu dan bambu. Atapnya menggunakan daun ilalang kering yang disusun rapat sebagai perisai terhadap panas dan hujan. Sebagian lantai rumah menggunakan campuran tanah liat yang dipadatkan, yang secara tradisional diikat dengan bahan organik. Di halaman depan, kamu akan melihat lumbung padi berbentuk panggung dengan atap lancip. Susunan rumah dan lumbung membentuk kluster kecil yang dihuni keluarga besar.

Aktivitas utama yang dapat dilihat pengunjung adalah proses menenun. Perempuan desa duduk di serambi atau ruang depan sambil menggerakkan alat tenun bukan mesin. Kamu bisa memperhatikan tahap persiapan benang, penyusunan motif, hingga pengikatan warna untuk menghasilkan pola. Banyak pengunjung membeli kain hasil tenun langsung dari pembuatnya. Motif, ukuran, dan tingkat kerumitan menentukan harga, dan penjual biasanya menjelaskan arti pola serta waktu pembuatan kain.

Pada waktu tertentu, desa mengadakan demonstrasi budaya untuk rombongan, seperti permainan tradisional atau pertunjukan musik dan tari. Jadwalnya tidak tetap dan biasanya bergantung pada kesepakatan dengan pihak desa. Jika kamu datang pada hari yang tidak ada pertunjukan, kegiatan sehari-hari warga seperti menenun, mengolah pangan, dan berinteraksi di halaman rumah tetap dapat diamati. Area foto yang paling sering dikunjungi berada di sekitar deretan lumbung padi.

Kunjungan ke Sade umumnya berlangsung singkat. Mayoritas pengunjung mengalokasikan 1 sampai 2 jam untuk berkeliling bersama pemandu, melihat proses menenun, berbincang dengan pemilik rumah yang membuka toko kain, dan memotret pemandangan permukiman. Waktu ini cukup untuk memahami garis besar kehidupan masyarakat Sasak di desa yang masih mempertahankan praktik tradisional.

Fasilitas bagi pengunjung meliputi area parkir untuk mobil dan sepeda motor di dekat pintu masuk desa serta toilet sederhana yang dapat digunakan. Di sekitar pintu masuk dan area parkir terdapat beberapa warung yang menjual minuman kemasan dan makanan ringan. Di dalam desa, fasilitasnya terbatas pada kebutuhan warga, sehingga layanan untuk wisatawan berfokus pada pendampingan pemandu, kunjungan ke rumah-rumah yang menerima tamu, serta penjualan kain tenun dan suvenir. Karena fungsi utama bangunan adalah rumah tinggal, beberapa ruang bersifat privat dan tidak dibuka untuk umum. Foto biasanya diperbolehkan di area luar dan rumah yang berjualan, namun ikuti arahan pemandu bila ada bagian yang tidak untuk difoto.

Biaya kunjungan tidak berbentuk tiket resmi layaknya objek wisata berfasilitas lengkap. Praktiknya, pengunjung memberikan donasi untuk desa dan kadang memberikan tip kepada pemandu. Berdasarkan kebiasaan di lapangan, estimasi pengeluaran untuk singgah tanpa berbelanja kain berada pada kisaran Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per orang, di luar biaya transportasi. Jika membeli kain tenun atau suvenir, total biaya tentu akan bergantung pada produk yang dipilih.

Musim kemarau antara Mei hingga September cenderung menghadirkan cuaca lebih cerah di Lombok selatan. Jalan setapak di dalam kampung juga lebih kering pada periode ini, sehingga aktivitas berjalan kaki lebih lancar. Pada musim hujan, kamu tetap dapat berkunjung, namun perlu memperhitungkan kemungkinan hujan singkat di siang atau sore hari.

Lokasi Sade membuatnya mudah digabungkan dengan kunjungan ke destinasi lain di selatan Lombok. Pantai Kuta Mandalika berada sekitar 15 sampai 20 menit berkendara ke arah selatan, menjadi pusat akomodasi, restoran, dan layanan wisata. Tanjung Aan dapat dicapai sekitar 25 sampai 30 menit dari Sade, dengan akses jalan beraspal yang mengarah ke timur dari Kuta. Bukit Merese berada di ujung timur Tanjung Aan dan sering didatangi untuk melihat panorama garis pantai. Pantai Seger terletak tidak jauh dari Kuta Mandalika, di arah timur kompleks Kuta. Bagi yang tertarik pada situs budaya, Masjid Kuno Rembitan berada relatif dekat dari Sade dan dapat dikunjungi dalam perjalanan yang sama. Di sisi lain, Desa Ende yang juga dikenal sebagai permukiman tradisional Sasak berada tidak jauh di jalur yang sama, sehingga sering dipadukan dalam satu rute singkat.

Karakter kawasan sekitar Sade bersifat rural dengan lahan pertanian dan permukiman menyebar di sepanjang jalan utama. Pada akhir pekan dan musim liburan, arus kendaraan di lintasan Kuta Mandalika cenderung lebih ramai. Ini berdampak pada waktu tempuh dari dan ke Sade. Datang pada pagi hari biasanya membuat kunjungan lebih leluasa karena suhu udara lebih sejuk dan jumlah rombongan wisata belum terlalu banyak.

Beberapa rumah di Sade memajang kain yang belum selesai dikerjakan sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan dari hari ke hari. Informasi tentang bahan, pewarna, serta penamaan motif biasanya disampaikan pemilik rumah dengan singkat. Jika tertarik mencoba, kadang tamu dipinjami kain untuk dikenakan di halaman rumah guna difoto, dengan persetujuan pemilik. Interaksi seperti ini berlangsung ringan dan tidak bersifat formal, mengikuti kegiatan keluarga yang memang sedang berlangsung di rumah tersebut.

Untuk kebutuhan dasar, sinyal telepon seluler dari operator besar di Lombok umumnya tersedia di desa dan di jalan utama. ATM tidak terdapat di dalam desa. Mesin ATM dan minimarket bisa ditemukan di Kuta Mandalika atau di sekitar bandara, yang berjarak puluhan menit berkendara. Air minum kemasan dan beberapa makanan ringan dijual di warung sekitar parkir dan di sejumlah rumah yang membuka lapak kecil, namun pilihan kuliner yang lebih lengkap berada di Kuta Mandalika.

Rute kunjungan yang lazim dimulai dari pintu masuk, berlanjut menyusuri gang menuju area lumbung, kemudian berpindah ke beberapa rumah yang membuka toko kain. Pemandu biasanya menjelaskan perbedaan lumbung padi dan bangunan tempat tinggal, menjawab pertanyaan singkat, serta menunjukkan titik-titik yang aman untuk berjalan. Jalan di dalam kampung berupa tanah dan sebagian berbatu, dengan kontur relatif datar. Sepatu atau sandal yang nyaman akan membantu kamu bergerak lebih mudah di antara rumah-rumah yang letaknya berdekatan.

Jika kamu menjadikan Sade sebagai pemberhentian singkat, perkirakan total waktu 1 hingga 2 jam sudah mencakup parkir, tur singkat, melihat proses menenun, dan berinteraksi dengan warga yang membuka toko kain. Durasi bisa lebih panjang bila ingin berbelanja atau menunggu pertunjukan budaya yang diadakan sesuai kesepakatan dengan pihak desa atau pemandu setempat.

Desa Sade memberikan gambaran tentang permukiman tradisional Sasak yang masih dihuni, dengan aktivitas keseharian yang dapat diamati secara langsung. Lokasinya di koridor Kuta Mandalika hingga bandara memudahkan akses, fasilitas dasar tersedia di pintu masuk, dan daya tarik utama berfokus pada arsitektur rumah tradisional, lumbung padi, serta kerajinan tenun yang dikerjakan di rumah-rumah warga.