Hamparan bukit berumput yang berundak-undak di sekitar Poto Tano membuat kawasan ini dikenal luas sebagai Bukit Teletubbies di Sumbawa Barat. Dari punggungan bukit, kamu dapat melihat bentang daratan yang bergelombang lembut hingga ke arah laut. Pada cuaca cerah, siluet pulau-pulau kecil di lepas pantai barat Sumbawa tampak jelas, terutama Pulau Kenawa dan Paserang yang termasuk dalam gugusan Gili Balu. Nama julukan ini merujuk pada bentuk lanskapnya yang halus dan berlapis, menyerupai punggung bukit yang rapat dan berumput tanpa banyak pepohonan besar.

Lokasinya berada di koridor utama Poto Tano menuju Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat. Poto Tano adalah pintu masuk pulau Sumbawa dari Lombok melalui jalur penyeberangan. Karena posisinya berdekatan dengan pelabuhan, Bukit Teletubbies sering menjadi perhentian singkat bagi pelancong yang baru tiba atau hendak kembali menyeberang. Akses jalan menuju kaki bukit terhubung ke jalan nasional yang menghubungkan Poto Tano dengan permukiman-permukiman di sekitarnya, sehingga kawasan ini mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kamu yang datang dari Pelabuhan Poto Tano cukup berkendara mengikuti jalan utama ke arah Taliwang. Sejumlah punggung bukit di sisi kiri dan kanan jalan menampakkan jalur setapak alami yang menuju titik pandang. Jarak tepat dan waktu tempuh bergantung pada titik bukit yang kamu pilih, namun banyak titik pandang berada tidak jauh dari jalur aspal. Dari parkir informal di tepi jalan, jalur setapak menuju puncak umumnya berupa tanah berumput dengan kemiringan ringan hingga sedang. Waktu berjalan kaki ke punggungan biasanya singkat, meskipun tetap perlu berhati-hati saat tanah licin setelah hujan.

Lanskap di atas bukit ditandai lapisan rumput yang menutup permukaan tanah dan kontur yang menyusun teras-teras alamiah. Vegetasi pepohonan relatif jarang, sehingga pandangan ke segala arah tidak banyak terhalang. Ke arah laut, garis pantai Sumbawa Barat terlihat dengan air biru dan pulau-pulau kecil di kejauhan. Ke arah darat, kontur bukit dan lembah berulang membentuk pola gelombang yang memanjang. Ketinggian bukit di kawasan ini tidak ekstrem, namun cukup untuk memberikan sudut pandang luas terhadap garis pantai dan jalan raya yang melintas di bawahnya.

Kegiatan utama di Bukit Teletubbies adalah berjalan kaki singkat dan berdiri di titik-titik pandang untuk memotret lanskap. Banyak pengunjung datang pada pagi hari untuk mengejar langit yang lebih cerah dan cahaya yang lebih lembut pada musim kemarau. Arah pandang yang terbuka memudahkanmu menyusun foto hamparan bukit berlapis, garis pantai, hingga perahu-perahu yang melintas di teluk sekitar Poto Tano. Ketika cuaca bersih, Pulau Kenawa dan Pulau Paserang terlihat sebagai daratan rendah yang datar dengan garis pantai yang kontras, sehingga sering dijadikan latar foto.

Karena vegetasi peneduh terbatas, kondisi di puncak bukit terasa terpapar langsung terhadap matahari dan angin. Topi, kacamata hitam, dan air minum pribadi umumnya dibawa pengunjung yang ingin berada lebih lama di atas. Sepatu dengan grip yang baik membantu saat menapaki jalur berumput yang bisa licin jika baru diguyur hujan. Jalur yang kamu temukan biasanya berupa jalan setapak alami tanpa tanda arah resmi, sehingga memilih jalur paling jelas dan menghindari tebing curam adalah pendekatan yang lazim dilakukan di sini.

Fasilitas pada area puncak bukit sangat terbatas. Tidak terdapat bangunan permanen untuk berteduh, tidak ada loket resmi, dan tidak ada papan informasi yang mendetail. Untuk kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, atau toilet, kamu dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sekitar Poto Tano. Kawasan pelabuhan memiliki warung, musala, serta area umum yang lebih lengkap dibandingkan punggung bukitnya. Tempat parkir seringkali berupa bahu jalan atau area tanah lapang yang biasa digunakan warga setempat dekat jalur masuk setapak. Mengatur kedatangan pada jam yang tidak terlalu ramai membantu mendapatkan ruang parkir yang lebih leluasa.

Jalur menuju Bukit Teletubbies paling mudah ditempuh dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Layanan sewa mobil dan sepeda motor tersedia di kota-kota utama Sumbawa, serta di Lombok bagi kamu yang menyeberang lewat Kayangan menuju Poto Tano. Moda angkutan umum pedesaan melintas di jalan utama, namun ketersediaannya tidak selalu terjadwal dan pemberhentiannya bisa jauh dari titik masuk jalur setapak. Jika kamu berangkat dari Taliwang, rute menuju Poto Tano mengikuti jalan utama yang sama dan melewati kawasan perbukitan ini dalam perjalanan. Dari Sumbawa Besar, kamu akan melalui koridor jalan nasional ke arah barat yang menghubungkan pusat-pusat permukiman di Pulau Sumbawa hingga tiba di Poto Tano.

Bagi kamu yang memulai perjalanan dari Lombok, rute paling umum adalah berkendara ke Pelabuhan Kayangan, menyeberang dengan feri menuju Poto Tano, lalu melanjutkan perjalanan darat beberapa kilometer menuju area bukit. Waktu penyeberangan antarpulau umumnya sekitar satu setengah jam, kemudian jarak dari pelabuhan ke deretan bukit tidak jauh. Dengan pola perjalanan seperti ini, banyak pelancong memilih mengatur waktu agar tiba di Poto Tano pada dini hari atau pagi awal untuk mengejar sesi foto pertama dari punggung bukit.

Di sekitar Bukit Teletubbies, beberapa tempat sering dikunjungi bersama-sama dalam satu hari. Pulau Kenawa menjadi salah satu tujuan paling populer di depan Poto Tano. Pulau ini dapat diakses dengan perahu sewaan dari sekitar pelabuhan dan sering dipadukan dengan kunjungan singkat ke bukit karena posisinya saling berhadapan. Pulau Paserang berada tidak jauh dari Kenawa dan juga menjadi target perjalanan singkat dengan perahu. Di daratan, Desa Mantar di Kecamatan Poto Tano dikenal sebagai lokasi landasan paralayang dan titik pandang lain yang berada di ketinggian lebih tinggi. Kombinasi kunjungan ke bukit di dekat jalan utama, lalu menyeberang ke salah satu pulau, memberikan variasi lanskap antara perbukitan berumput dan pesisir berpasir.

Kondisi cuaca sangat memengaruhi pengalaman berkunjung. Pada musim kemarau sekitar Mei sampai September, kemungkinan langit cerah lebih tinggi sehingga pandangan ke arah Kenawa, Paserang, dan lautan di sekitarnya lebih jelas. Angin dapat bertiup kencang di punggung bukit pada periode tertentu. Pada musim hujan, rumput lebih hijau tetapi pijakan bisa licin dan jarak pandang berkurang jika berkabut atau hujan turun. Karena tidak ada peneduh permanen, memilih jam kunjungan yang tidak terlalu terik membantu menghindari paparan panas langsung dalam waktu lama.

Durasi kunjungan rata-rata singkat hingga sedang. Banyak pengunjung mengalokasikan waktu satu hingga dua jam untuk berjalan menuju puncak, memotret dari beberapa sudut, kemudian kembali ke kendaraan dan melanjutkan perjalanan ke tujuan lain. Jika kamu memasukkan Pulau Kenawa atau Paserang dalam rencana hari yang sama, durasi harian akan bertambah menyesuaikan jadwal perahu dan kondisi gelombang. Rencana satu hari penuh realistis untuk menggabungkan bukit dan satu pulau terdekat, terutama pada musim kemarau ketika kondisi laut lebih bersahabat.

Kisaran biaya yang wajar untuk kunjungan mandiri ke Bukit Teletubbies berkutat pada pengeluaran transportasi darat, bahan bakar, dan parkir, dengan estimasi total Rp 150.000 sampai Rp 400.000 per orang tergantung titik awal perjalanan serta apakah kamu menambah aktivitas lain di sekitar Poto Tano. Tidak ada tiket masuk resmi untuk berdiri di punggung bukit tertentu, namun kontribusi parkir di area yang dikelola warga setempat dapat diberlakukan pada beberapa titik. Jika kamu menambah perjalanan perahu ke pulau-pulau sekitar, biaya tambahan bergantung pada negosiasi dengan pemilik perahu, jumlah penumpang, serta rute yang diambil.

Kamu yang berangkat dari kota-kota di Sumbawa dapat mencapai kawasan ini melalui jalan nasional yang sama. Sumbawa Besar memiliki bandara domestik yang menghubungkan kota ini dengan beberapa kota di Nusa Tenggara dan kawasan lain di Indonesia. Dari Sumbawa Besar, perjalanan darat ke wilayah Poto Tano mengikuti jalur utama pulau dan melewati permukiman, lahan kering, serta sejumlah titik pandang informal yang biasa digunakan pengendara untuk berhenti sejenak mengamati laut. Di sisi lain, jalur dari Taliwang relatif lebih singkat dan langsung mengarah ke koridor bukit-bukit berumput ini.

Fasilitas pendukung di luar area bukit lebih mudah ditemukan di pelabuhan dan permukiman terdekat. Warung makan sederhana, toko kelontong, serta penginapan kelas menengah ke bawah tersedia di sekitar Poto Tano dan Taliwang. Jika kamu membutuhkan pilihan akomodasi yang lebih beragam, Taliwang menawarkan opsi lebih banyak dibanding area pelabuhan. Sebagian pelancong menjadikan Taliwang sebagai basis menginap, kemudian melakukan perjalanan pulang-pergi untuk menjelajahi bukit di pagi hari dan menyeberang singkat ke salah satu pulau pada siang hari.

Keamanan di jalur bukit terutama berkaitan dengan pijakan dan paparan cuaca. Jalur setapak tidak selalu diberi pagar pembatas, sehingga memperhatikan langkah, menjaga jarak aman dari tepi lereng, dan menghindari berlari di rumput basah membantu mencegah terpeleset. Saat angin kencang, tripod ringan bisa kurang stabil dan perlu diberi pemberat ketika memotret. Sampah sebaiknya dibawa turun kembali karena tidak tersedia tempat penampungan resmi di puncak bukit. Praktik sederhana ini membantu menjaga kondisi jalur tetap bersih bagi pengunjung berikutnya.

Sebagian besar kunjungan berlangsung tanpa pemandu karena jalur relatif pendek dan bentang lahan terbuka. Walau begitu, keberadaan warga setempat yang mengenal akses masuk dan area parkir informal sering membantu memudahkan orientasi. Penunjuk arah digital dapat digunakan sebagai panduan mencapai koridor bukit dekat Poto Tano, lalu kamu dapat memilih salah satu jalur setapak yang paling jelas terlihat dari tepi jalan untuk mencapai punggungan yang diinginkan.

Karakter Bukit Teletubbies yang berupa perbukitan berumput, punggungan landai, dan pandangan luas ke arah laut menjadikannya lokasi yang cocok untuk fotografi lanskap dan momen matahari terbit. Kombinasikan dengan kunjungan ke pulau kecil di seberang Poto Tano agar mendapat variasi sudut pandang darat dan laut dalam satu hari, terutama pada periode Mei hingga September ketika cuaca cenderung lebih stabil di Sumbawa Barat.