Gerbang bata merah setinggi puluhan meter berdiri sendiri di tepi jalan raya Mojokerto ke Jombang. Itulah Wringin Lawang, salah satu pintu masuk ke kawasan Trowulan yang menyebar di dataran pedesaan dengan sawah, permukiman, dan situs-situs arkeologi periode Majapahit. Jaraknya sekitar belasan kilometer dari pusat Kota Mojokerto sehingga mudah dijangkau untuk kunjungan satu hari, atau lebih panjang jika kamu ingin menelusuri lebih banyak lokasi.
Trowulan berada di koridor utama yang menghubungkan Mojokerto dan Jombang. Dari Kota Mojokerto, perjalanan ke pusat kawasan situs seperti Museum Majapahit dan Kolam Segaran umumnya ditempuh 25 sampai 40 menit tergantung lalu lintas. Jika kamu datang dari Surabaya, waktu tempuh berkendara biasa sekitar 1,5 hingga 2 jam melalui jaringan jalan tol Surabaya ke Mojokerto lalu dilanjutkan ke arah barat menuju Trowulan. Pengguna kendaraan pribadi dapat keluar di gerbang tol terdekat di wilayah Mojokerto, lalu mengikuti petunjuk menuju Jalan Raya Trowulan.
Transportasi publik yang melintasi koridor ini mencakup bus antarkota dan kendaraan umum yang berhenti di sepanjang jalan raya Mojokerto ke Jombang. Dari Stasiun Mojokerto, kamu dapat melanjutkan dengan taksi, ojek, atau layanan ride-hailing menuju situs-situs yang tersebar. Karena titik kunjungan tidak berada di satu kompleks tertutup, banyak pengunjung memilih kendaraan sewa harian, taksi, atau ojek untuk berpindah dari satu situs ke situs lain.
Lansekap Trowulan merupakan kombinasi area permukiman, kebun, dan lahan pertanian yang di dalamnya terdapat puluhan struktur bata dan sisa bangunan air. Banyak situs berdiri sendiri di tengah kampung, ada juga yang dikelola di dalam area berpagar dengan pintu masuk dan petugas jaga. Jarak antarsitus umumnya beberapa menit berkendara sehingga realistis untuk menyusun rute yang mencakup beberapa lokasi dalam satu kali kunjungan.
Objek yang sering menjadi titik awal adalah Kolam Segaran. Kolam berbentuk persegi panjang berukuran besar ini berada tidak jauh dari Museum Majapahit. Di sekelilingnya terdapat area terbuka yang dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat. Keberadaan kolam memudahkan orientasi karena menjadi acuan ketika berpindah ke situs lain di radius dekat.
Museum Majapahit, juga dikenal sebagai Museum Trowulan, menampung koleksi artefak dari penggalian dan temuan di sekitar kawasan. Di sini kamu dapat melihat keramik, bata berstempel, arca, fragmen bangunan, dan dokumentasi penelitian yang membantu membaca konteks situs-situs di lapangan. Bangunan museum terdiri dari ruang pamer dan lapidarium luar ruang tempat artefak batu berukuran besar dipajang. Informasi di panel pameran memberi gambaran umum sebelum kamu bergerak ke situs lain yang letaknya tersebar.
Candi Tikus menjadi contoh struktur air dari bata yang masih terawat. Lokasinya berada di area pemukiman, dengan susunan tangga yang menuruni cekungan menuju kolam berundak. Penataan situs memungkinkan kamu melihat susunan bata dari jarak dekat. Kunjungan biasanya singkat, namun memberi variasi bentuk struktur dibandingkan candi-candi bertingkat yang umum ditemui di wilayah lain Jawa Timur.
Bajang Ratu, sebuah gapura candi dengan bentuk tinggi ramping dan ornamen bata, berdiri di dalam pelataran hijau yang tertata. Area berpagar dan akses yang jelas membuatnya mudah dikunjungi. Beberapa menit berkendara ke arah lain, Wringin Lawang menampilkan gerbang candi tipe candi bentar berskala besar di tepi jalan raya. Keduanya sering dikunjungi dalam satu rute karena menjadi contoh gerbang monumental dari bata yang khas di kawasan ini.
Candi Brahu berada di lahan yang lebih lapang dengan gundukan bata besar yang menjadi struktur utama. Walaupun tidak semua element bangunan bertahan, bentuk massa bata masih memberikan gambaran ukuran dan denah bangunan keagamaan di masa itu. Di titik lain terdapat Pendopo Agung, bangunan pendapa yang dipakai untuk kegiatan masyarakat dan sering menjadi referensi lokasi karena berada dekat jalur utama. Beberapa situs lain seperti Situs Kedaton, Kompleks Putri Cempo, dan reruntuhan kanal serta struktur air juga dapat ditemukan, meski kondisi akses dan penataan tiap titik berbeda.
Trowulan bukan kompleks tunggal, melainkan jaringan situs di area yang luas. Karena itu pengalaman berkunjung lebih menyerupai tur kawasan. Kamu akan berkendara dari satu titik ke titik lain, singgah selama 15 sampai 40 menit di setiap lokasi, lalu melanjutkan ke situs berikutnya. Penunjuk arah tersedia di beberapa persimpangan utama, tetapi peta digital dan koordinat tiap situs membantu memperlancar rute. Banyak pengunjung memulai dari museum untuk memperoleh peta dan gambaran umum, kemudian bergerak ke Kolam Segaran, Wringin Lawang, Candi Tikus, Bajang Ratu, dan Candi Brahu sesuai kedekatan jarak.
Fasilitas untuk pengunjung bervariasi. Di museum tersedia ruang pamer, area luar ruang, dan fasilitas dasar seperti toilet. Situs yang dikelola dengan pagar, seperti Candi Tikus dan Bajang Ratu, umumnya memiliki area parkir kecil dan petugas. Di titik yang berada tepat di tepi jalan raya seperti Wringin Lawang, area berhenti kendaraan biasanya berupa bahu jalan dan lahan parkir setempat. Warung makan, kios minuman, dan toko cendera mata dapat ditemukan di sekitar beberapa pintu masuk situs, terutama yang sering dikunjungi. Di kawasan ini juga terdapat masjid, minimarket, dan bengkel di sepanjang jalan utama.
Karena Trowulan berdekatan dengan kawasan permukiman, pilihan tempat makan tersebar di sepanjang koridor jalan Mojokerto ke Jombang, dari warung sederhana hingga rumah makan yang melayani penumpang antar kota. Pilihan akomodasi lebih banyak berada di Kota Mojokerto dan Jombang yang berjarak puluhan menit berkendara. Banyak pengunjung memilih bermalam di salah satu kota tersebut, lalu mengalokasikan satu hari untuk berkeliling Trowulan.
Desa Bejijong di sisi kawasan dikenal karena rumah-rumah bata yang bergaya rujukan arsitektur Majapahit. Banyak rombongan singgah untuk melihat suasana permukiman dan kegiatan kerajinan. Desa ini dapat digabungkan dalam rute kunjungan karena berada di wilayah yang sama dengan situs-situs utama. Di luar itu, dua kota terdekat juga menawarkan tujuan tambahan, seperti alun-alun, sentra kuliner, dan pusat perbelanjaan yang berguna jika kamu membutuhkan fasilitas lebih lengkap setelah selesai berkeliling situs.
Cuaca kering antara Mei sampai Oktober memudahkan mobilitas karena sebagian besar aktivitas berada di ruang terbuka. Durasi kunjungan yang realistis berkisar 1 sampai 2 hari, terutama jika kamu ingin memasukkan museum dan beberapa situs di radius yang lebih jauh. Estimasi biaya di kisaran Rp 150.000 hingga 400.000 dapat mencakup transportasi lokal, tiket masuk beberapa situs, serta makanan sederhana, bergantung pada pilihan moda transportasi dan jumlah lokasi yang kamu masuki.
Rute masuk ke kawasan mudah diikuti karena semua situs berada di sisi atau dekat jalan raya yang sama. Dari arah Mojokerto, patokan yang sering digunakan adalah perempatan besar Trowulan di jalur menuju Jombang. Dari titik ini, penunjuk arah ke Candi Tikus, Bajang Ratu, Candi Brahu, Wringin Lawang, Kolam Segaran, dan Museum Majapahit dapat ditemukan di beberapa persimpangan. Jika datang dari Jombang, pola petunjuknya serupa karena koridor yang sama menghubungkan kedua kota.
Pergerakan antarsitus paling efisien dengan kendaraan bermotor. Jarak tempuh antartitik umumnya 5 sampai 15 menit, dengan kondisi jalan beraspal dan lalu lintas lokal. Untuk kamu yang ingin berjalan kaki, opsi ini hanya cocok di dalam satu klaster situs yang saling berdekatan. Bersepeda dimungkinkan di jalan kampung dan jalan sekunder, tetapi perlu mempertimbangkan paparan matahari karena area terbuka cukup luas.
Kebersihan dan perawatan situs menjadi perhatian banyak pihak, sehingga beberapa lokasi menerapkan jalur kunjungan yang jelas dan area yang tidak boleh dimasuki. Di museum, aturan fotografi dan akses ruang pamer tercantum di dekat pintu masuk. Di situs luar ruang, pagar pembatas membantu menjaga jarak pengunjung dari struktur bata yang rentan. Mematuhi petunjuk setempat mempermudah pengelolaan dan membantu kelestarian bangunan.
Bagi yang menyusun rute tematik, kombinasi berikut sering digunakan karena kedekatan dan variasi bentuk: Museum Majapahit dan Kolam Segaran untuk orientasi awal, Wringin Lawang sebagai contoh gerbang candi tipe candi bentar, Bajang Ratu untuk bentuk gapura yang tinggi, Candi Tikus untuk struktur air bertingkat, kemudian Candi Brahu untuk massa bangunan keagamaan dari bata. Jika waktu memungkinkan, singgahi Pendopo Agung dan desa-desa sekitar untuk melihat konteks permukiman masa kini yang tumbuh berdampingan dengan situs bersejarah.
Trowulan tidak memiliki satu pintu gerbang utama layaknya taman arkeologi berpagar luas. Pengalaman kunjungan lebih mirip menjelajah kampung dan lahan pertanian yang di dalamnya terdapat titik-titik kunjungan yang dikelola. Pola ini membuat penyusunan waktu dan urutan lokasi menjadi penting agar perjalanan efisien. Dengan akses yang terhubung langsung ke jalan nasional Surabaya ke Kertosono dan kedekatannya dengan Mojokerto serta Jombang, kawasan ini mudah digabungkan dalam perjalanan lintas Jawa Timur sekaligus menyediakan gambaran komprehensif tentang tinggalan arkeologi era Majapahit yang masih dapat dilihat di lapangan hari ini.