Pari manta kerap muncul di perairan sekitar Pulau Sangalaki, terutama di titik pembersihan alami yang dikenal para penyelam di kawasan Kepulauan Derawan. Di pesisir pulaunya, jejak penyu hijau yang naik untuk bertelur dapat ditemukan pada musim tertentu, sementara pos petugas konservasi menjadi pusat pengawasan kegiatan perlindungan satwa tersebut. Kombinasi habitat peneluran penyu dan perairan jernih dengan terumbu karang yang masih produktif menjadikan Sangalaki salah satu pulau yang sering dituju peneliti kelautan dan wisatawan minat khusus di Berau, Kalimantan Timur.

Pulau Sangalaki berada di gugus Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Dari sisi orientasi perjalanan, jalur paling umum dimulai dari Tanjung Redeb sebagai pusat layanan transportasi di Berau, lalu berlanjut ke pelabuhan Tanjung Batu sebelum menyebrang dengan speedboat ke pulau-pulau di sekitarnya. Waktu tempuh darat Tanjung Redeb ke Tanjung Batu umumnya sekitar dua jam bergantung kondisi lalu lintas dan jalan. Dari Tanjung Batu, perjalanan dengan speedboat menuju Pulau Sangalaki memakan waktu kurang lebih satu hingga satu setengah jam, tergantung kondisi gelombang dan jenis perahu. Banyak pengunjung juga menjadikan Pulau Derawan sebagai titik singgah karena fasilitasnya lebih lengkap, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 45 hingga 60 menit dengan perahu ke Sangalaki ketika cuaca mendukung.

Transportasi publik terjadwal menuju Sangalaki sangat terbatas. Sebagian besar kunjungan diatur melalui penyewaan speedboat dari Tanjung Batu, Derawan, atau Maratua, baik melalui operator lokal maupun penginapan yang menyediakan layanan antar-jemput antarpulau. Kendaraan sewaan atau mobil travel digunakan untuk mencapai pelabuhan dari pusat kota. Bandara terdekat adalah Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb, yang menghubungkan Berau dengan beberapa kota besar di Kalimantan dan hub penerbangan domestik lainnya. Setelah tiba di bandara, kamu dapat melanjutkan dengan mobil menuju Tanjung Batu sebelum menyeberang dengan perahu.

Karakter pulau relatif datar dengan pantai berpasir dan vegetasi pantai yang menaungi area peneluran penyu. Perairan di sekelilingnya memiliki tutupan karang yang menjadi habitat berbagai ikan karang, invertebrata laut, dan padang lamun di bagian perairan dangkal. Di beberapa sisi, arus dapat cukup kuat sehingga aktivitas snorkeling atau menyelam biasanya mengikuti saran pemandu yang memahami kondisi setempat dan perubahan pasang surut harian. Visibilitas bawah air pada musim kemarau cenderung lebih baik, bergantung cuaca dan curah hujan.

Kegiatan utama yang dicari pengunjung di Sangalaki meliputi snorkeling dan menyelam untuk melihat formasi terumbu karang, koloni ikan karang, dan peluang bertemu pari manta. Titik penyelaman di sekitar pulau dikenal di kalangan penyelam, antara lain area yang sering dilalui pari manta saat membersihkan diri pada arus tertentu. Kehadiran pari manta tidak dapat dipastikan setiap hari, namun perairan ini termasuk area yang sering dituju untuk peluang perjumpaan. Ketika arus mendukung dan jarak pandang memadai, snorkeling di sisi perairan yang lebih tenang dapat menampilkan karang keras dan karang lunak dengan ikan-ikan karang yang mudah terlihat di kedalaman dangkal.

Pengamatan penyu menjadi pengalaman lain yang sering diupayakan di Sangalaki. Penyu hijau bertelur di pantai ini sepanjang tahun, dengan aktivitas yang lebih sering terjadi pada malam hari. Kegiatan pengamatan biasanya mengikuti arahan petugas konservasi setempat untuk menjaga jarak, meminimalkan cahaya, dan tidak mengganggu hewan. Pada waktu tertentu, pelepasan tukik ke laut dapat dilakukan oleh petugas sebagai bagian dari upaya konservasi, dan pengunjung dapat menyaksikannya bila bertepatan dengan jadwal kegiatan. Selebihnya, jejak penyu di pasir dan area sarang yang diberi tanda oleh petugas dapat terlihat pada siang hari.

Fasilitas di Pulau Sangalaki terbatas. Terdapat pos atau stasiun petugas konservasi yang menjadi rujukan untuk informasi dasar di pulau, serta dermaga kecil untuk naik turun penumpang dari perahu. Tidak terdapat pusat komersial, restoran, atau pemukiman penduduk tetap di Sangalaki. Karena itu, pengunjung biasanya membawa perlengkapan pribadi dan logistik seperlunya dari Derawan, Maratua, atau dari daratan Berau. Peralatan snorkeling dan menyelam umumnya disediakan oleh operator tur atau penginapan di pulau lain, kemudian dibawa saat kunjungan harian ke Sangalaki. Untuk kebutuhan khusus seperti tabung selam dan perawatan alat, koordinasi dilakukan di pusat layanan menyelam yang berada di pulau-pulau yang lebih berkembang.

Dari sisi pengalaman di darat, Sangalaki adalah pulau kecil yang dapat ditelusuri dengan berjalan kaki. Jalur pasir dan vegetasi pantai menghubungkan area pendaratan perahu dengan pos petugas serta pantai peneluran. Tidak ada jalan beraspal dan tidak ada kendaraan umum di pulau. Pengaturan waktu kunjungan biasanya mengikuti jadwal pasang surut dan kondisi angin untuk memastikan perahu dapat merapat dan berangkat dengan aman. Jika kamu berencana melakukan aktivitas malam hari seperti pengamatan penyu, umumnya diperlukan koordinasi sebelumnya agar perahu dan pemandu siap melakukan perjalanan pulang atau menyediakan penjadwalan menginap di pulau sekitar yang memiliki akomodasi.

Kawasan sekitar Sangalaki menyediakan banyak opsi untuk mengombinasikan perjalanan. Pulau Derawan, yang sering menjadi basis menginap, memiliki desa dengan penginapan, warung makan, penyewaan perlengkapan, dan layanan perahu ke pulau lain. Pulau Kakaban yang berdekatan dikenal dengan danau ubur-ubur di tengah pulau yang dapat diakses dengan berjalan kaki dari dermaga menuju jalur kayu ke danau, sementara perairan sisi luar Kakaban menjadi salah satu lokasi menyelam dinding karang. Maratua berada lebih jauh dan memiliki sejumlah resor menyelam dengan akses ke titik-titik penyelaman di sepanjang tepi atol. Ada juga pulau-pulau kecil seperti Samama yang sering dikunjungi untuk menikmati perairan dangkal dan hamparan pasir saat surut. Kombinasi ini memungkinkan satu perjalanan mencakup snorkeling di Sangalaki, menyusuri danau ubur-ubur di Kakaban, dan menyelam atau bersantai di Derawan maupun Maratua.

Pengaturan keselamatan menjadi perhatian penting di Sangalaki karena aktivitas berlangsung di lingkungan laut terbuka. Arus pasang surut dapat berubah dalam hari yang sama. Operator lokal yang berpengalaman biasanya menentukan titik masuk, rute renang, dan durasi berada di air. Perahu menunggu di titik permukaan yang disepakati agar evakuasi mudah dilakukan jika kondisi berubah. Untuk pengamatan penyu malam hari, penggunaan senter biasanya dibatasi dan diarahkan ke area yang tidak mengganggu hewan, mengikuti panduan petugas konservasi. Pengunjung yang tidak berenang tetap dapat berada di darat untuk melihat area sarang yang ditandai dan memotret jejak penyu pada siang hari tanpa memasuki zona sensitif.

Musim kemarau di Kalimantan Timur umumnya berlangsung sekitar Mei hingga Agustus, periode yang kerap dipilih wisatawan karena cuaca lebih stabil dan visibilitas bawah air cenderung baik. Informasi ini sejalan dengan rekomendasi waktu kunjungan yang sering digunakan operator setempat. Meskipun begitu, kunjungan sepanjang tahun tetap dilakukan, bergantung kesiapan terhadap perubahan cuaca dan ketersediaan perahu. Untuk durasi, kunjungan harian dari Derawan atau Tanjung Batu dimungkinkan, tetapi banyak pengunjung mengalokasikan satu hingga tiga hari untuk mengeksplorasi Sangalaki bersama pulau-pulau sekitar agar tidak bergantung pada satu jendela cuaca saja.

Estimasi biaya perjalanan singkat ke Sangalaki berada di kisaran Rp 1.500.000 hingga Rp 3.000.000 per orang, bervariasi menurut jumlah peserta, pilihan perahu, titik berangkat, serta apakah termasuk peralatan snorkeling atau paket menyelam. Biaya tersebut biasanya mencakup transportasi laut pulang-pergi ke pulau-pulau sekitar, sedangkan penginapan, makan, dan tiket lokasi lain seperti danau ubur-ubur di Kakaban dihitung terpisah sesuai kebijakan pengelola setempat. Karena fasilitas di Sangalaki minim, sebagian besar pengeluaran terkait logistik dan layanan diselesaikan di Derawan, Maratua, atau di daratan Berau.

Bagi penyelam bersertifikat, operator biasanya mensyaratkan bukti sertifikasi dan log penyelaman, kemudian menentukan lokasi sesuai tingkat pengalaman. Titik-titik sekitar Sangalaki dapat memiliki arus horizontal dan vertikal yang berubah, sehingga brifing lokasi dan penggunaan surface marker buoy ketika naik ke permukaan menjadi standar. Untuk snorkeling, rompi apung sering dianjurkan demi visibilitas di permukaan dan penghematan energi saat mengikuti arus ringan. Perilaku yang merusak karang seperti berdiri di atas karang, menyentuh penyu, atau mendekati pari manta dari arah depan dihindari karena mengganggu hewan dan dapat membahayakan pengunjung.

Kamu dapat menyesuaikan pola kunjungan dengan prioritas utama. Jika fokus pada pengamatan penyu, luangkan waktu sore hingga malam untuk berkoordinasi dengan petugas konservasi di pulau. Jika prioritas snorkeling dan peluang melihat pari manta, jendela pagi hingga siang kerap dipilih agar jarak pandang lebih baik, meskipun ini tetap bergantung kondisi laut. Untuk kombinasi beberapa pulau, pengaturan rute umum yang sering dipakai dari Derawan adalah menuju Sangalaki terlebih dahulu, lalu Kakaban, dan kembali lewat titik snorkeling dangkal di sekitar Derawan ketika arus lebih tenang menjelang sore.

Ketersediaan sinyal telekomunikasi di sekitar Sangalaki tidak selalu stabil, karena menara seluler berada di pulau lain yang berpenghuni. Listrik di pos petugas menggunakan sumber daya terbatas. Karena itu, komunikasi dengan operator biasanya dilakukan sebelum berangkat, termasuk kesepakatan titik jemput, waktu kembali, serta rencana alternatif jika cuaca berubah. Air tawar untuk bilas setelah snorkeling atau menyelam umumnya tersedia di perahu atau di fasilitas penginapan di pulau lain, bukan di Sangalaki.

Bagi pengunjung yang tertarik pada aspek konservasi, Sangalaki memberikan gambaran langsung tentang bagaimana sebuah pulau kecil berfungsi sebagai lokasi peneluran penting penyu hijau di pesisir Kalimantan Timur. Jejak perlindungan terlihat dari keberadaan pos petugas, papan informasi sederhana, dan penandaan sarang. Kehadiran wisatawan dibatasi oleh kondisi fisik pulau dan kapasitas perahu, sehingga kunjungan biasanya tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. Pola ini membantu menjaga tekanan pada pantai peneluran dan terumbu karang di sekitar pulau.

Pulau Sangalaki pada akhirnya berfungsi sebagai simpul pengalaman laut di Berau. Dari satu titik ini, kamu dapat menyusun perjalanan yang fokus pada biota karang, megafauna seperti pari manta, dan pengamatan siklus hidup penyu hijau yang berlangsung di bibir pantai. Akses yang mengandalkan perahu membuat perencanaan logistik menjadi bagian penting, tetapi jarak ke pulau-pulau tetangga yang sama-sama menarik menjadikan Sangalaki relevan baik untuk kunjungan singkat maupun eksplorasi lebih lama di Kepulauan Derawan.